⌂ Beranda News Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan, Ini Penyebabnya

Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan, Ini Penyebabnya

Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan, Ini Penyebabnya
Ilustrasi: Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan, Ini Penyebabnya
A A Ukuran Teks16px

Pernahkah Anda menyadari bahwa pendaran cahaya kunang-kunang kini semakin jarang menghiasi malam? Absennya kunang-kunang bukanlah kejadian kebetulan, melainkan alarm bahaya bagi kondisi alam di sekitar kita.

Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi, mengungkapkan bahwa kunang-kunang sejatinya adalah bioindikator alami yang sangat akurat.

>>> Dituding Pakai AI untuk PHK Ribuan Karyawan, Meta Digugat

"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem.

Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," jelas Kesumawati, dikutip dari laman resmi IPB University.

Darurat Kepunahan Global dan Ancaman Polusi Cahaya

Menyusutnya populasi kunang-kunang bukan sekadar masalah lokal di Indonesia, melainkan telah menjadi fenomena global.

Menurut data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11% hingga 20% spesies kunang-kunang di dunia saat ini berstatus terancam.

Bahkan, sejumlah spesies yang berhabitat di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand kini telah masuk dalam kategori rentan.

Kesumawati membeberkan beberapa faktor utama yang menjadi biang kerok menyusutnya populasi serangga malam tersebut.

Alih fungsi lahan menjadi faktor pertama.

Masifnya pembangunan yang mengubah lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman, industri, hingga semenisasi saluran irigasi telah merampas rumah alami para kunang-kunang.

Polusi cahaya juga berperan besar. Penggunaan lampu LED yang terlampau terang ternyata berakibat fatal bagi siklus hidup mereka.

Cahaya terang di malam hari mengalahkan sinyal cahaya alami kunang-kunang betina, sehingga pejantan kesulitan mendeteksi dan menemukan pasangannya.

>>> Spanyol ke Final Piala Dunia 2026, De la Fuente: Kami Tim Terbaik

Akibatnya, proses perkawinan menjadi gagal total.

Faktor lainnya adalah bahan kimia dan iklim.

Masifnya penggunaan insektisida kimia yang beracun serta perubahan iklim global yang kerap memicu kekeringan panjang turut mempercepat laju kematian populasi kunang-kunang.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM