Sebuah peta dunia berusia sekitar 440 tahun kembali memicu perdebatan mengenai lokasi Bahtera Nuh.
Peneliti independen Jimmy Corsetti mengklaim ilustrasi pada peta tersebut menunjukkan lokasi yang sama dengan situs di Turki yang selama puluhan tahun diyakini sebagian orang sebagai tempat berakhirnya perjalanan bahtera setelah banjir besar.
>>> Motorola Razr Fold Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp 25,5 Juta
Peta itu adalah Planisphere karya kartografer Italia Urbano Monte yang dibuat pada 1587.
Terdiri dari 60 lembar gambar tangan yang jika disusun membentuk lingkaran berdiameter sekitar tiga meter, peta ini merupakan salah satu peta dunia terbesar pada masanya dan kini disimpan di David Rumsey Map Center, Stanford University.
Perhatian tertuju pada ilustrasi sebuah kapal yang digambar di kawasan Pegunungan Ararat di wilayah Turki modern.
Dalam Kitab Kejadian (Genesis 8:4), Bahtera Nuh disebut berlabuh di 'pegunungan Ararat' setelah banjir besar selama 150 hari.
Dikutip dari New York Post, Jimmy Corsetti menilai posisi kapal pada peta tersebut bertepatan dengan Formasi Durupinar, struktur berbentuk kapal di Turki timur yang sejak lama menjadi lokasi pencarian Bahtera Nuh.
"Lokasinya sama dengan Situs Durupinar, begitu juga panjangnya," tulis Corsetti dalam unggahan di media sosial X.
Formasi Durupinar merupakan struktur geologi sepanjang sekitar 164 meter yang ditemukan pada 1959 di dekat Gunung Ararat.
Bentuknya menyerupai kapal sehingga menarik perhatian kelompok yang percaya situs tersebut adalah sisa Bahtera Nuh.
Belakangan, tim Noah's Ark Scans melakukan survei menggunakan ground-penetrating radar (GPR) di lokasi itu.
Mereka mengklaim menemukan pola lorong dan rongga di bawah permukaan yang dianggap menyerupai struktur kapal bertingkat sebagaimana digambarkan dalam Alkitab.
