Maraknya spam judi online (judol) di kolom komentar akun media sosial mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Jika dibiarkan, potensi masyarakat terjerat judol semakin besar.
Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan fenomena tersebut harus disikapi secara serius. Apalagi, serangan judol di kolom komentar kerap menargetkan akun-akun besar dengan pengikut banyak.
>>> Kimi K3 AI Bikin Heboh, Bos OpenAI Sampai Ketar-ketir
"Dulu lewat iklan dan link langsung, sekarang geser ke kolom komentar. Sifatnya meledak serentak, bukan menetes, muncul barengan pas postingan lagi rame.
Nempel ke akun besar, cari momen atensi tinggi. Makanya naiknya pas Piala Dunia.
Jadi bukan rame alami, tapi digerakkan otomatis," kata Ismail kepada detikcom.
Menurutnya, fenomena ini muncul karena pelaku memanfaatkan media sosial sebagai 'batu loncatan' untuk mengarahkan korban ke platform utama judol.
Cara ini tergolong efektif dan murah.
"Karena murah, lemah pengawasan, dan numpang platform yang nggak mungkin diblokir pemerintah. Mereka tahu Komdigi nggak bakal blokir YouTube atau IG.
Jadi dipakai batu loncatan sebelum korban diarahkan keluar ke landing page," jelasnya.
"Moderasi platform fokus di konten utama, komentar paling longgar.
Biar nyampe, mereka serbu pas viral, samarkan teks pakai variasi kata, tagar, emoji, sisipan karakter biar lolos filter.
Sasarannya konten bola dan gim," tambahnya.
Ismail Fahmi menilai spam judol di kolom komentar hanyalah bagian kecil dari masalah. Di balik fenomena itu masih ada ekosistem panjang yang perlu diberantas.
"(Spam judol di kolom komentar) Itu cuma ujung gunung es. Corong paling hulu buat narik pemain.
Di belakangnya rantai panjang, domain dirotasi, server inti di luar negeri sembunyi di balik Cloudflare, dana ngalir lewat rekening nominee, e-wallet, QRIS, sampai kripto," ujarnya.
