Suasana ruangan remang-remang dengan suara pintu berderit dan efek audio menyeramkan terdengar dari berbagai sudut. Sekilas, tempat itu tampak seperti rumah hantu di taman hiburan.
Namun, alih-alih dikejar hantu, pengunjung justru diminta memecahkan teka-teki menggunakan AI. Pengalaman ini ditawarkan dalam wahana House of Kiro di AWS Summit Jakarta 2026.
>>> Musim Chelsea Bisa Dianggap Sukses jika Lolos Liga Champions
Dari luar, wahana ini memang tampak seperti rumah hantu. Setelah masuk, peserta baru menyadari bahwa 'hantu' yang dihadapi adalah tantangan memahami cara kerja AI.
Di dalam ruangan, peserta disuguhi sejumlah tantangan yang harus diselesaikan agar bisa keluar.
Setiap peserta mendapatkan laptop yang menjalankan Amazon Kiro, AI IDE terbaru dari Amazon Web Services (AWS).
Alih-alih mencari kunci tersembunyi, peserta diminta menyusun prompt kepada Kiro. Semakin jelas instruksi yang diberikan, semakin akurat petunjuk yang dihasilkan AI.
Metafora Pengembangan Perangkat Lunak
Di balik nuansa horor, AWS menyisipkan filosofi menarik. Rumah hantu menjadi metafora proses pengembangan perangkat lunak yang penuh ketidakpastian.
Bug bermunculan, dokumentasi tidak lengkap, kebutuhan aplikasi berubah di tengah jalan, hingga developer harus menebak keinginan pengguna. Amazon Kiro dirancang untuk mengurangi 'kekacauan' tersebut.
Berbeda dengan AI coding assistant biasa, Amazon Kiro mendampingi developer sejak tahap awal.
Developer cukup menjelaskan aplikasi yang ingin dibuat, lalu Kiro membantu menyusun kebutuhan sistem, rencana implementasi, daftar pekerjaan, hingga proses pengujian.
Pendekatan ini dikenal sebagai spec-driven development, membangun aplikasi berdasarkan spesifikasi jelas sebelum penulisan kode dimulai.
>>> Salah Gabung Trabzonspor, Ada Klausul Khusus dalam Kontraknya
AI Tak Lagi Cuma Menulis Kode
Vice President Governance and Compliance AWS, Nandini Ramani, mengatakan tantangan developer saat ini bukan lagi menghasilkan kode.
