Perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) Firmus mengumumkan perolehan pendanaan baru sebesar USD 2 miliar atau sekitar Rp32,6 triliun.
Dana segar ini akan digunakan untuk mempercepat pembangunan AI factory di Australia dan kawasan Asia Pasifik, termasuk proyek pusat data AI raksasa di Batam, Indonesia.
>>> Mesin Cuci Banting Harga di Transmart Full Day Sale, Cek Promonya
Putaran pendanaan terbaru ini kembali diikuti oleh Nvidia dan Coatue Management. Blackstone melalui sejumlah fund miliknya serta Jane Street juga turut menjadi investor.
Dengan pendanaan jumbo tersebut, valuasi Firmus melonjak menjadi lebih dari USD 10,5 miliar.
Angka ini hampir dua kali lipat dibanding valuasi perusahaan sekitar USD 5,5 miliar pada April 2026.
Co-CEO Firmus Oliver Curtis mengatakan suntikan modal baru akan membantu perusahaan mempercepat proyek AI factory yang tengah dikembangkan, termasuk ekspansi awalnya di Indonesia.
"Kami akan terus bergerak dengan kecepatan yang sama, dan pendanaan ini memungkinkan kami mempercepat proyek di Australia serta langkah awal kami di Indonesia," kata Curtis, dikutip dari Reuters, Minggu (9/8/2026).
Firmus sebelumnya mengumumkan rencana pembangunan kampus AI factory berkapasitas 360 MW di Batam. Proyek tersebut akan menggunakan infrastruktur Nvidia dan dirancang untuk menampung hingga 170.000 akselerator AI.
Dalam proyek ini, Firmus akan menggunakan GPU dan akselerator Nvidia dari platform Grace-Blackwell, Vera-Rubin hingga Vera yang akan ditempatkan secara bertahap sepanjang 2027 dan 2028.
Skalanya membuat fasilitas Batam diproyeksikan menjadi salah satu proyek infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Firmus akan menggabungkan platform AI factory Nvidia DSX dengan arsitektur HyperCube miliknya yang menggunakan sistem pendingin cair.
>>> Indonesia Raih Dua Medali di Kejuaraan Asia Hoki Bawah Air 2026
Perusahaan mengatakan pendekatan tersebut dirancang untuk menjalankan komputasi AI dalam skala besar dengan efisiensi energi yang lebih tinggi.

