Indonesia tidak akan dapat menyaksikan gerhana Matahari total (GMT) yang terjadi pada 12 Agustus 2026 secara langsung.
Namun, pada malam yang sama hingga dini hari berikutnya, langit Indonesia akan menyajikan fenomena astronomi lain yang tak kalah menarik, yaitu hujan meteor Perseid.
>>> Pemerintah & Swasta Atasi 2.000 Desa Blankspot Sinyal Internet di RI
Fenomena tahunan ini menjadi salah satu hujan meteor yang paling dinantikan karena meteor-meteornya dikenal terang dan dapat terlihat tanpa bantuan teleskop.
Kondisi Ideal Pengamatan Perseid
Tahun ini, kondisi pengamatan hujan meteor Perseid tergolong sangat baik. Puncaknya bertepatan dengan fase Bulan Baru, sehingga cahaya Bulan tidak akan mengganggu pandangan ke langit malam.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kondisi tersebut membuat langit menjadi lebih gelap dan pengamatan meteor menjadi lebih optimal.
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi melintasi sisa debu dari sebuah komet.
Setiap tahun, Bumi berpapasan dengan sisa debu komet sehingga terjadi fenomena hujan meteor yang memiliki arah dan waktu kemunculan yang tetap.
Hujan meteor Perseid tergolong kuat dan menarik minat para penggemar astronomi.
Potensi Jumlah Meteor yang Terlihat
Pada kondisi langit yang ideal, pengamat dapat menyaksikan sekitar 1 hingga 2 meteor per menit saat puncak Perseid.
Angka ini setara dengan puluhan hingga sekitar 100 meteor per jam dalam kondisi pengamatan yang sangat baik, menurut perkiraan NASA.
Namun, jumlah meteor yang benar-benar terlihat oleh setiap orang dapat lebih sedikit karena dipengaruhi oleh polusi cahaya, cuaca, posisi pengamat, dan luas langit yang dapat diamati.
Meteor Perseid dikenal cukup cepat dan terang. Debu yang menjadi sumber hujan meteor ini berasal dari Komet 109P/Swift-Tuttle.

