⌂ Beranda News Wabah Ebola di Kongo Renggut Puluhan Korban Jiwa, Hoaks dan Penolakan Masyarakat Hambat Penanganan

Wabah Ebola di Kongo Renggut Puluhan Korban Jiwa, Hoaks dan Penolakan Masyarakat Hambat Penanganan

Wabah Ebola di Kongo Renggut Puluhan Korban Jiwa, Hoaks dan Penolakan Masyarakat Hambat Penanganan
Petugas medis menangani pasien Ebola di Kongo
A A Ukuran Teks16px

Sebanyak 60 orang meninggal dunia dari sekitar 350 kasus terkonfirmasi akibat wabah Ebola ke-17 yang melanda wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo.

Krisis kesehatan ini memicu kepanikan dan resistensi luar biasa dari warga setempat karena ketidakpercayaan mereka terhadap keberadaan penyakit mematikan tersebut.

>>> Arthur Irawan Bagikan Tips Jaga Stamina Olahraga bagi Pemula

"Masyarakat tidak percaya pada penyakit ini.

Meski sudah ada korban meninggal, mereka tetap tidak percaya," kata John Tumujimbe, koordinator tim pemakaman aman dan bermartabat di Mongbwalu.

Penolakan ini sempat mengejutkan tim medis karena penanganan penyakit serupa sebenarnya sudah didukung oleh pengalaman dan keahlian yang tersedia sejak virus pertama kali ditemukan pada tahun 1976.

"Awalnya kami menduga malaria, tifus, atau penyakit diare. Namun setelah begitu banyak kematian, kami mengirim sampel ke INRB," ujar Tumujimbe.

Lembaga Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo (INRB) kemudian mengonfirmasi kasus tersebut sebagai Ebola, namun warga tetap memercayai berbagai rumor mistis dan konspirasi.

"Semuanya berawal dari cerita tentang peti mati yang membunuh orang. Lalu semakin banyak orang meninggal," ujarnya.

Isu hoaks tersebut kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan massal yang menyasar fasilitas kesehatan di Mongbwalu pada akhir Mei.

"Terjadi kepanikan," kata Direktur Rumah Sakit Mongbwalu Richard Lokudi.

Serangan massa ke rumah sakit umum tersebut memicu situasi kacau hingga menyebabkan sejumlah pasien dalam pemantauan melarikan diri.

"Sebanyak 18 pasien yang sedang dipantau menghilang," ujarnya.

Kondisi ini diperparah oleh ketiadaan vaksin untuk varian Bundibugyo yang kini sedang menyebar di wilayah konflik tersebut.

"Penyakit disebut berasal dari laboratorium sebagai senjata biologis. Vaksin dianggap lebih berbahaya daripada virusnya.

Ada obat sederhana yang sengaja disembunyikan. Industri farmasi besar disebut sebagai pihak yang diuntungkan atau bahkan penyebab krisis.

>>> Kemensos Buka 185 Formasi PPPK Tendik untuk Lulusan SMA di Sekolah Rakyat 2026

Bahkan ada yang mengklaim penyakit itu tidak nyata," kata Christopher Nehring, peneliti keamanan dari Konrad-Adenauer-Stiftung.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru