Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pekan ini muncul fenomena "Sell Indonesia" yang mendapat perhatian luas media internasional.
George Boubouras, Kepala Riset K2 Asset Management yang mengelola dana sekitar 4,3 miliar dolar AS, menyatakan bahwa perdagangan paling populer di Asia saat ini adalah "Sell Indonesia".
>>> Presiden Como 1907 Buka Suara soal Transfer dan Masa Depan Fabregas
Ia mengaku telah melepas seluruh eksposur investasinya di Indonesia sejak 2024.
Pernyataan tersebut bukan sekadar komentar seorang investor.
Dalam perspektif Hubungan Internasional modern, pernyataan itu mencerminkan semakin besarnya pengaruh aktor non-negara dalam menentukan arah ekonomi global.
Sejak berakhirnya Perang Dingin, negara tidak lagi menjadi satu-satunya aktor yang menentukan dinamika internasional.
Perusahaan multinasional, lembaga pemeringkat kredit, institusi keuangan internasional, hedge fund, hingga pasar keuangan global memiliki kemampuan memengaruhi kebijakan dan perekonomian suatu negara.
Robert Keohane dan Joseph Nye menyebut fenomena tersebut sebagai complex interdependence atau saling ketergantungan kompleks.
Dalam dunia yang saling bergantung, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan militer, tetapi juga oleh akses terhadap modal, teknologi, jaringan ekonomi global, dan kepercayaan internasional.
Karena itu, ketika sebagian investor global melakukan aksi jual terhadap aset Indonesia, yang terjadi bukan sekadar transaksi ekonomi.
Pasar sedang mengirimkan sinyal mengenai persepsi mereka terhadap risiko, prospek ekonomi, dan kualitas tata kelola nasional.
Investor tidak hanya membaca angka pertumbuhan ekonomi.
Mereka juga menilai kepastian hukum, konsistensi kebijakan, kualitas institusi, efektivitas birokrasi, dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas jangka panjang.
Dalam konteks ini, reputasi menjadi faktor yang sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. Di sinilah relevansi konsep soft power Joseph Nye memperoleh makna yang lebih luas.
Dalam ekonomi global, daya tarik suatu negara tidak hanya berasal dari budaya atau nilai-nilai yang dimilikinya, tetapi juga dari kredibilitas kebijakannya.
Investor menanamkan modal bukan hanya karena potensi keuntungan, melainkan karena percaya bahwa aturan main akan konsisten, transparan, dan dapat diprediksi.