Peneliti dari University of Rochester berhasil mengembangkan inovasi baru dalam teknologi desalinasi. Perangkat bertenaga surya ini mampu mengubah air laut menjadi air tawar sekaligus mengekstrak litium.
Dilansir dari Detik iNET, alat ini memanfaatkan material logam bertekstur laser tanpa memerlukan filter bertekanan tinggi. Prosesnya tidak boros energi dan ramah lingkungan.
>>> Penembakan di Dekat Markas Timnas Inggris, Sembilan Orang Terluka
Penelitian dipimpin oleh Profesor Optik dan Fisika, Chunlei Guo. Fokus utama adalah penggunaan permukaan logam khusus yang disebut superwicking black metal.
Logam tersebut ditembak dengan pulsa laser femtosecond untuk mengubah strukturnya di tingkat mikroskopis.
Hasilnya, logam memiliki dua sifat unik: menyerap hampir seluruh cahaya matahari dan menyedot air hingga menyebar menjadi lapisan tipis.
Energi surya kemudian memanaskan dan menguapkan air laut menjadi uap air tawar. Uap tersebut siap dikumpulkan sebagai air bersih.
Mengatasi Masalah Kerak Garam
Penumpukan kerak garam seperti kalsium dan magnesium biasanya menjadi masalah utama desalinasi. Tim Guo memanfaatkan efek cincin kopi (coffee ring effect) untuk mengatasinya.
"Jika Anda meneteskan kopi di meja, airnya akan menguap dan meninggalkan cincin partikel kopi di tepi," jelas Guo.
Alur ukiran laser pada alat memandu garam dan mineral ke area pasif.
>>> Korlantas Polri Resmikan SIM Digital di Seluruh Indonesia
Area utama penguapan tetap bersih dan tidak tersumbat. Alat ini telah diuji menggunakan sampel air dari Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.
Ramah Lingkungan dan Bebas Limbah Cair Brine
Desalinasi konvensional menghasilkan limbah cair brine yang merusak ekosistem laut. Alat ini menghasilkan sisa buangan berupa garam padat yang bisa dipanen.
Bentuk padat ini membuka peluang untuk mengambil material berharga dari laut. Alih-alih menjadi limbah, garam sisa dapat dimanfaatkan.
Bonus Penambangan Litium untuk Baterai
Tim peneliti memodifikasi permukaan logam dengan nanopartikel hydrogen titanate. Partikel ini menangkap ion lithium yang terkandung dalam garam sisa.
Pengujian menggunakan air dari danau Great Salt Lake di Utah berhasil memulihkan sekitar separuh total lithium. "Menambang lithium dari bumi sangat membebani lingkungan," ungkap Guo.
Menarik lithium langsung dari air laut bisa menjadi jalur alternatif penting di masa depan.
Inovasi ini menawarkan cara baru untuk mengatasi krisis air bersih sekaligus memanen bahan baku elektronik.
>>> Ganjil Genap Jakarta Kembali Berlaku Pagi Ini, 25 Ruas Jalan Disasar
Sistem masih dalam tahap proof-of-concept. Diperlukan waktu untuk memproduksinya dalam skala industri besar.