Sekitar 150 ahli matematika dari berbagai negara menandatangani deklarasi bersama yang dikenal sebagai Deklarasi Leiden.
Mereka memperingatkan pemerintah agar tidak mudah terpengaruh oleh klaim sensasional mengenai kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam memecahkan masalah matematika kompleks.
>>> Melihat Tekanan Melalui Kacamata Rafael Nadal: Strategi Finansial Generasi Sandwich
Langkah ini dipicu oleh klaim OpenAI yang menyebut teknologi AI mereka berhasil memecahkan konjektur jarak satuan berusia 80 tahun karya Paul Erdos secara otonom.
OpenAI menyebutnya sebagai pertama kalinya AI secara otonom memecahkan masalah terbuka terkemuka di bidang matematika.
Klaim tersebut langsung memicu perdebatan di kalangan akademisi. Banyak yang meragukan kemampuan AI yang sesungguhnya dalam menyelesaikan persoalan matematis yang telah lama belum terpecahkan.
Kekhawatiran Akademisi dan Dorongan Komersial
Wakil Presiden International Mathematical Union, Ulrike Tillmann, turut menyuarakan kekhawatiran ini melalui dokumen pendukung Deklarasi Leiden setebal 11 halaman.
Ia menegaskan bahwa masa depan penelitian matematika harus dipandu oleh penilaian manusia, praktik adil, dan nilai-nilai bersama komunitas matematika global.
Para ahli menilai ada dorongan komersial yang masif dari industri teknologi untuk membesar-besarkan kemampuan produk AI.
Deklarasi tersebut menyebutkan bahwa saat ini terdapat insentif komersial kuat bagi industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka.
Para pembuat kebijakan disarankan untuk berkonsultasi dengan pakar dan matematikawan sebelum mengambil keputusan penting terkait AI.
>>> Korlantas Polri Tunda Operasi Patuh 2026, Fokus pada Hari Bhayangkara
Kekhawatiran lain muncul karena model AI sering kali menghasilkan jawaban keliru yang terlihat meyakinkan.
Kepala Ilmu Komputer Universitas Oxford, Leslie Ann Goldberg, mengatakan bahwa teknik otomatisasi saat ini dapat menghasilkan argumen yang terdengar masuk akal namun tidak dapat diandalkan.
Argumen palsu tersebut sulit dibedakan dari pembuktian matematika yang benar.
Kondisi ini diperparah oleh situasi akademisi yang kerap terpaksa mendukung teknologi AI demi mendapatkan pendanaan penelitian. Tren ini semakin meningkat di tengah melonjaknya minat terhadap AI.
Selain masalah matematika, Deklarasi Leiden juga menyoroti dampak regulasi AI di sektor militer, pengawasan massal, penyebaran misinformasi, hingga kerusakan lingkungan.
Persoalan hak cipta juga menjadi sorotan karena data pelatihan AI sering diambil tanpa izin pemilik karya ilmiah.
Antropolog AI Universitas Leiden, Rodrigo Ochigame, menyatakan bahwa matematikawan yang tidak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI mendapati karya mereka digunakan tanpa persetujuan.
>>> IHSG Anjlok ke Level 5.400 pada Awal Pekan, Saham Bank Besar Tertekan
Ia menilai situasi ini sangat mengkhawatirkan.