Kemampuan menulis kode atau coding dinilai tidak lagi cukup bagi developer di era kecerdasan buatan (AI).
OpenAI memprediksi peran software engineer akan bergeser dari sekadar membuat kode menjadi mampu merumuskan masalah, mengarahkan AI, hingga memastikan hasilnya aman dan siap digunakan.
>>> Ilmuwan Usulkan Redupkan Matahari untuk Atasi El Nino
Menurut Gabriel Chua, DX Engineer OpenAI, perkembangan AI kini telah memasuki fase baru.
AI mulai mampu menerima tugas yang lebih kompleks dan menyelesaikannya secara mandiri, bukan hanya sebagai alat pelengkap penulisan kode.
Pergeseran ini menggeser nilai utama seorang developer. Ke depan, kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan akan menjadi pembeda, bukan sekadar seberapa cepat menulis kode.
Gabriel menjelaskan, ketika agen AI semakin canggih, developer akan lebih banyak berperan dalam merumuskan masalah, menetapkan batasan, mengevaluasi berbagai konsekuensi, serta memastikan aspek pengujian, keamanan, dan arsitektur perangkat lunak berjalan dengan baik.
Developer yang andal tidak menerima hasil kerja AI begitu saja.
Mereka tahu apa yang harus diminta, bagaimana memecah alur kerja, apa yang layak dibangun, dan kapan hasilnya siap diluncurkan.
Hubungan antara developer dan AI juga akan berubah.
>>> Daftar Juara Japan Open 2026: Indonesia Raih 1 Gelar, Tuan Rumah Nihil
AI akan menjadi collaborator atau rekan kerja yang mampu menangani sebagian pekerjaan teknis, tetapi tetap berada di bawah kendali manusia.
AI Tak Menggantikan Developer
Meskipun AI semakin mampu menghasilkan kode, OpenAI menegaskan teknologi tersebut bukan pengganti software engineer.
Developer tetap bertanggung jawab meninjau, menguji, serta memahami konsekuensi dari kode yang dihasilkan AI.
Fondasi teknis seperti memahami sistem, debugging, keamanan, data, dan arsitektur perangkat lunak masih menjadi keterampilan penting.
Di saat yang sama, developer juga dituntut mampu memberikan konteks kepada AI, mengevaluasi hasil pekerjaannya, serta menentukan kapan sebuah produk siap dirilis.
Pesan untuk generasi developer Indonesia adalah menjadi builder, bukan sekadar pengguna teknologi. Cara terbaik mempersiapkan diri menghadapi era AI adalah dengan langsung membangun sesuatu menggunakan teknologi tersebut.
Ketika menemui hambatan, developer dapat memanfaatkan AI untuk membantu mengurai masalah dan menemukan langkah berikutnya.
>>> Persija Latihan di Thailand, Kirim Tim Muda ke Piala Presiden 2026
Cara terbaik untuk bersiap menghadapi era AI adalah dengan 'learning by doing' dan langsung membangun sesuatu dengan teknologi ini.
