Arus masuk truk impor asal China dalam beberapa tahun terakhir menjadi tantangan berat bagi industri karoseri di Indonesia.
Penetrasi kendaraan niaga dari Tiongkok menyebabkan penurunan jumlah pesanan aplikasi truk.
>>> SpaceX Siapkan Starlink V3 demi Dorong Valuasi IPO Rp28.600 Triliun
Truk asal China datang dalam bentuk Complete Build-Up (CBU) atau siap pakai yang sudah dilengkapi bak. Akibatnya, konsumen tidak perlu lagi memesan rumah-rumah truk ke perusahaan karoseri domestik.
Strategi Karoseri Bertahan
Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), Syarifuddin Tangka, mengatakan pihaknya selalu bersinergi dengan agen tunggal pemegang merek (ATPM) untuk bertahan.
Langkah ini diambil demi memberikan layanan terbaik bagi pelanggan.
Perusahaan karoseri MTU menerapkan tiga poin utama sebagai strategi bisnis. Pertama, fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) internal agar visi kerja tercapai.
"Yang pertama kami berpikirnya bagaimana caranya mencapai visinya, maka harus ada misi bagaimana meningkatkan SDM yang ada di MTU.
Karyawan yang ada di sini dari berbagai daerah, jadi betul-betul hegemonis," kata Syarifuddin.
Peningkatan kapasitas SDM dinilai berpengaruh langsung terhadap kualitas dan jaminan mutu produk. Hal ini mendasari strategi kedua, yaitu efisiensi dan efektivitas proses pengerjaan karoseri.
>>> Pemprov Lampung Sepakati Studi Kelayakan Kawasan Industri Katibung
Ketersediaan SDM mumpuni dibutuhkan agar proses produksi berjalan optimal. Area workshop dapat dimanfaatkan sebagai solusi merakit kendaraan sesuai kebutuhan pelanggan, namun tetap menghormati batasan ATPM.
"Hal ini untuk mengimbangi permainan teman-teman importir China yang masuk mungkin tidak ada SKRB atau SRUT," ujar Syarifuddin.
Dukungan Layanan Purna Jual
Poin ketiga strategi perusahaan adalah ikut terlibat membantu ATPM menyediakan layanan purna jual (after sales).
MTU diketahui kerap bekerja sama dengan Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) untuk membangun rumah bagi truk Mercedes Benz.
Syarifuddin menyayangkan kondisi di Indonesia yang cenderung hanya melihat pihak ATPM ketika truk mengalami kendala, bukan melihat peran karoserinya.
"Maka dari itu kami harus ikut serta membantu teman-teman di DCVI untuk bertanggung jawab ke after sales-nya.
>>> Bareskrim Polri Selidiki Dugaan Kartel TBS Sawit
Sehingga ketika truk ada masalah pelanggan tidak hanya bisa hubungi ATPM saja, tapi kita juga bisa memasang badan untuk layanan after sales-nya, khususnya berhubungan dengan karoseri," kata Syarifuddin.