⌂ Beranda News Hari Laut Sedunia: Ancaman Kerusakan Ekosistem Bahari Indonesia Makin Nyata

Hari Laut Sedunia: Ancaman Kerusakan Ekosistem Bahari Indonesia Makin Nyata

Hari Laut Sedunia: Ancaman Kerusakan Ekosistem Bahari Indonesia Makin Nyata
Ilustrasi kerusakan ekosistem laut Indonesia akibat polusi
A A Ukuran Teks16px

Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni menjadi pengingat krusial mengenai kondisi perairan global yang semakin kritis.

Lautan yang menutupi 70 persen permukaan bumi tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru planet, tetapi juga menopang kehidupan miliaran manusia.

>>> Gempa 7,7 Guncang Filipina, Indonesia Sempat Berlakukan Peringatan Tsunami

Namun, sekitar 90 persen populasi ikan besar telah terkuras habis, dan sampah plastik diprediksi akan melebihi berat ikan pada tahun 2050 jika tren konsumsi tidak berubah.

Kondisi serupa membayangi perairan Indonesia, yang kini menghadapi limpahan sampah dan zat kimia berbahaya.

Pulau sampah pernah muncul di Pesisir Muara Angke, Jakarta, sementara Gili Trawangan di NTB tercemar bakteri E. coli akibat pengelolaan limbah domestik yang buruk.

Polusi ini bahkan telah menembus laut dalam, dengan mikroplastik terdeteksi hingga kedalaman 2.450 meter di Selat Makassar dan Lombok.

Teluk Jakarta juga menunjukkan tingkat pencemaran logam berat seperti timbal dan kadmium, serta kontaminasi paracetamol.

Sektor industri turut berkontribusi melalui pertambangan nikel di Raja Ampat, sementara jangkar ponton batu bara merusak terumbu karang di Kutai Kartanegara dan Karimunjawa.

Dampak destruktif dari pariwisata juga tercatat, seperti insiden kapal pesiar Caledonian Sky yang merusak ribuan meter persegi terumbu karang di Raja Ampat pada 2017.

Pemerintah telah berupaya melakukan mitigasi, termasuk pembersihan di Muara Angke dan pencabutan izin tambang di Raja Ampat.

>>> DPR dan Menteri Koordinasi Percepat Pertumbuhan Ekonomi dan Izin Investasi

Namun, pakar lingkungan mengingatkan bahwa setiap ekosistem memiliki batas toleransi yang jika terlampaui dapat menyebabkan kolaps.

Teori siklus hidup kawasan pariwisata juga menunjukkan tekanan wisatawan dan limbah berlebih dapat menurunkan kualitas lingkungan secara drastis.

Kebijakan pariwisata di Indonesia dinilai masih terlalu fokus pada kuantitas kunjungan dan devisa, dengan pariwisata berkelanjutan seringkali hanya menjadi narasi tanpa realisasi kuat.

Penelitian menunjukkan narasi berkelanjutan kerap digunakan untuk kesan ramah lingkungan, padahal tujuan utamanya tetap pertumbuhan ekonomi.

Terjadi ketidakselarasan antara Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia dengan eksekusi lapangan oleh otoritas pariwisata yang masih fokus pada fungsi humas.

Kelalaian manajemen lingkungan ini berdampak pada reputasi global, seperti Bali yang sempat masuk daftar destinasi yang direkomendasikan untuk dihindari akibat krisis sampah.

Peringatan Hari Laut Sedunia 2026 dengan tema 'Strong Marine Protected Areas for Our Blue Planet' menekankan pentingnya perlindungan ketat.

Dunia bergerak menuju target global 30x30 untuk melindungi minimal 30 persen kawasan laut pada tahun 2030.

>>> Kemenaker Siap Proses Aduan PHK dan Union Busting dari KPBI

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif didorong untuk mengambil langkah tegas menghentikan jejak destruktif dari berbagai aktivitas di destinasi bahari.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru