⌂ Beranda News Saham BBCA dan BBRI Anjlok ke Titik Terendah Lima Tahun

Saham BBCA dan BBRI Anjlok ke Titik Terendah Lima Tahun

Saham BBCA dan BBRI Anjlok ke Titik Terendah Lima Tahun
Grafik saham BBCA dan BBRI menurun tajam
A A Ukuran Teks16px

Pasar modal Indonesia mengalami guncangan pada perdagangan Senin (8/6/2026) ketika harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) anjlok ke level terendah dalam lima tahun terakhir.

Pada pukul 09.10 WIB, saham BBCA sempat menyentuh angka 4.870. Tak lama kemudian, pada pukul 09.14 WIB, saham BBRI juga melemah hingga mencapai 2.620.

>>> Kuota Produksi Batu Bara Akan Dilonggarkan Seiring Pergerakan Harga

Penurunan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan rekor tertinggi kedua emiten tersebut dalam lima tahun terakhir.

Saham BBCA pernah mencapai 10.950 pada September 2024, sementara BBRI sempat berada di posisi 6.400 pada Maret 2024.

Hingga pukul 11.09 WIB, saham BBCA tercatat di level 4.990, mengalami penyusutan 1,67 persen dari penutupan sebelumnya.

Pada waktu yang sama, saham BBRI terkoreksi 2,97 persen menjadi 2.660.

Tekanan jual tidak hanya melanda BBCA dan BBRI, tetapi juga saham perbankan nasional lainnya.

Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terpangkas 3,95 persen ke level 1.095, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 3,12 persen ke posisi 3.110, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 1,30 persen ke level 3.900.

Kejatuhan sektor keuangan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

>>> BPJS Kesehatan Terapkan Aturan Baru Layanan Kontrol Mulai Juni 2026

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG melorot hingga menyentuh level terendah 5.346,33 setelah dibuka pada posisi 5.486,31.

Mayoritas saham tercatat berada di zona merah, dengan rincian 596 saham melemah, 55 saham menguat, dan 70 saham stagnan.

Aktivitas transaksi di pasar modal terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp3,424 triliun dari volume 5,346 miliar saham.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana dari Republik Investor menilai penurunan ini sebagai bagian dari penyesuaian ulang atau repricing terhadap risiko investasi di Indonesia oleh pelaku pasar global.

Investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi.

Situasi ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah, koreksi IHSG lebih dari 36 persen dari puncaknya, serta aksi jual bersih oleh investor asing.

>>> Dishub DKI Jakarta Tertibkan 15 Titik Parkir Liar

Hendra menambahkan, risiko yang paling menjadi perhatian saat ini adalah meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru