Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia akan menugaskan Badan Layanan Umum Lemigas untuk melakukan impor minyak sebanyak 150 juta barel dari Rusia.
Langkah ini diambil seiring dengan penerbitan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 untuk menjaga ketahanan energi nasional.
>>> Saham BBCA dan BBRI Anjlok ke Titik Terendah Lima Tahun
Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Lemigas akan diarahkan untuk kemungkinan tersebut. Komunikasi intensif dengan pihak Lemigas segera dilakukan untuk memotong rantai birokrasi perdagangan yang panjang.
"Tujuannya apa? Agar memotong mata rantai daripada proses yang selama ini terjadi.
Dan itu bisa G-to-G," ujar Bahlil Lahadalia.
Kesepakatan pasokan komoditas energi ini sebelumnya telah disetujui dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin.
>>> Kuota Produksi Batu Bara Akan Dilonggarkan Seiring Pergerakan Harga
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menerangkan bahwa komitmen volume impor yang besar tersebut ditujukan untuk mencukupi kebutuhan domestik.
"Kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," ujar Yuliot Tanjung.
Pemerintah memastikan proses pengapalan seluruh muatan minyak tersebut akan dibagi dalam beberapa tahapan pengiriman karena keterbatasan fasilitas penampungan di dalam negeri.
"Skemanya itu kan tidak bisa sekaligus. Itu kalau sekaligus itu kan kita memerlukan oil storage di dalam negeri.
>>> BPJS Kesehatan Terapkan Aturan Baru Layanan Kontrol Mulai Juni 2026
Itu kan akan dilakukan impor secara bertahap," tambah Yuliot Tanjung.