Anak-anak perempuan kini semakin banyak menggunakan beragam produk perawatan kulit dan kosmetik setiap hari demi mendapatkan kulit sempurna.
Fenomena obsesi tidak sehat pada anak muda ini dikenal dengan istilah cosmeticorexia.
>>> Pemerintah Kucurkan Rp1 Triliun untuk Pulihkan Lahan Pertanian Terdampak Bencana di Sumatra
Istilah cosmeticorexia diperkenalkan oleh dermatolog yang mengamati lonjakan penggunaan skincare pada anak-anak serta remaja.
Penelitian terhadap 55 pasien berusia 8 hingga 14 tahun menunjukkan bahwa anak-anak yang terindikasi mengalami fenomena ini menghabiskan banyak waktu menonton konten kecantikan di media sosial, menggunakan hingga 10 produk setiap hari, dan kehilangan rasa percaya diri untuk bersosialisasi tanpa kosmetik.
Survei merek skincare Pai terhadap 1.500 anak usia 9 hingga 12 tahun menemukan hampir separuh responden memakai produk perawatan kulit setiap minggu, dengan sebagian besarnya bertujuan mengatasi masalah kulit.
Tren ini dinilai mencerminkan pergeseran masif cara industri kecantikan dalam memengaruhi anak perempuan.
Peneliti media sosial dari Cornell University, Brooke Erin Duffy, menilai tekanan pemasaran yang sebelumnya ditujukan pada wanita dewasa kini dialihkan secara agresif kepada generasi yang jauh lebih muda.
Dermatolog konsultan Dr. Jean Ayer menjelaskan bahwa secara alami kulit anak-anak sebenarnya sudah berada dalam kondisi yang sangat baik.
>>> Polres Bogor Selidiki Kasus Bocah Tewas Akibat Serangan Anjing Pemburu
Ia menambahkan bahwa produk populer di pasar saat ini umumnya dirancang untuk anti-penuaan sehingga tidak diperlukan oleh anak-anak.
Pada kondisi terbaik, mereka memang tidak memerlukan produk tersebut. Pada kondisi terburuk, kandungannya justru bisa merusak kulit anak yang masih sensitif.
Penggunaan bahan aktif seperti retinol pada anak justru berisiko merusak lapisan pelindung kulit dan memicu kemerahan, ruam, hingga sensitivitas jangka panjang yang dikenal sebagai retinol burn.
Selain dampak fisik, obsesi ini juga memengaruhi kondisi psikologis anak akibat paparan standar kecantikan di dunia digital.
Psikolog Italia, Alberto Stefana, mengatakan anak-anak yang terobsesi dengan skincare cenderung dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di media sosial.
Stefana menambahkan bahwa anak-anak berisiko mengalami kecemasan akibat terus membandingkan diri dengan orang lain.
>>> Polda Metro Jaya Tunda Operasi Patuh Jaya 2026, Penegakan Hukum Tetap Berjalan
Temuan awal juga mengindikasikan adanya keterkaitan antara cosmeticorexia dan body dysmorphic disorder (BDD) atau gangguan kesehatan mental berupa ketidakpuasan terus-menerus terhadap penampilan fisik.