Istilah sell Indonesia belakangan makin sering terdengar untuk menggambarkan suasana pasar yang penuh kegelisahan.
Rupiah melemah, IHSG tertekan, dan arus keluar modal asing masih menjadi bagian dari cerita yang belum selesai.
>>> Gubernur Ahmad Luthfi Alokasikan Rp 200 Miliar Perbaiki Jalan Rusak
Namun yang penting dari situasi ini bukan sekadar angka kurs atau indeks yang bergerak turun.
Yang lebih penting adalah apa yang diungkapkannya: bahwa pasar mulai memperlakukan Indonesia secara berbeda.
Seolah masalahnya bukan lagi sekadar gejolak global, melainkan menipisnya kepercayaan terhadap arah ekonomi itu sendiri.
Selama ini, kita terlalu sering mengira bahwa fondasi ekonomi yang cukup baik akan dengan sendirinya menghadirkan ketenangan.
Pertumbuhan masih ada, inflasi relatif terjaga, dan berbagai lembaga internasional pun masih melihat Indonesia sebagai ekonomi yang cukup tangguh.
Akan tetapi, seperti pernah diingatkan John Maynard Keynes, perekonomian tidak hanya digerakkan oleh hitung-hitungan rasional.
Perekonomian juga digerakkan oleh keyakinan untuk bertindak di tengah ketidakpastian. Ketika keyakinan itu surut, pasar tidak lagi sekadar menilai angka, tetapi mulai menilai kredibilitas.
Di titik itulah istilah sell Indonesia menjadi lebih dari sekadar label pasar. Di sinilah letak persoalan ekonomi Indonesia hari ini.
Kita mungkin tidak sedang kekurangan fondasi. Yang sedang menipis justru kepercayaan.
Karena itu, gejolak kurs dan pasar saham tidak cukup dibaca sebagai episode sesaat. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar: keraguan atas konsistensi, keterbacaan, dan kredibilitas arah kebijakan.
Jarak itu tampak dalam hal-hal yang sederhana. Rumah tangga menahan belanja.
Pelaku usaha memilih menunggu. Investor tidak serta-merta percaya hanya karena mendengar narasi yang optimistis.
Bahkan kelas menengah, yang selama ini menjadi salah satu penopang konsumsi, mulai merasa ruang geraknya menyempit.
Maka, ketika pemerintah berbicara tentang stabilitas, tidak sedikit publik yang justru bertanya apakah stabilitas itu benar-benar terasa dalam hidup mereka.
Karena itu, kesehatan ekonomi tidak bisa hanya dibaca dari data agregat. PDB dapat tumbuh, inflasi bisa rendah, dan disiplin fiskal tetap terjaga.