Apple melipatgandakan target produksi MacBook Neo setelah permintaan pasar melonjak tinggi.
Laptop seharga USD 600 atau sekitar Rp 9,7 juta itu kini ditargetkan dikirim sebanyak 10 juta unit, naik dari 5 juta unit.
>>> Thailand Tekuk Malaysia 3-2 di Piala AFF U-19 2026, Lolos ke Semifinal
Analis Ming-Chi Kuo mengungkapkan perubahan proyeksi pengiriman internal tersebut.
Menurut data IDC, MacBook Neo mencatat penjualan 1,1 juta unit dalam kurang dari tiga minggu pada kuartal sebelumnya.
Angka itu melampaui volume penjualan MacBook Air dan MacBook Pro. Konsumen tampak tidak mempermasalahkan spesifikasi minimum, seperti prosesor daur ulang dari iPhone dan RAM 8GB.
Tantangan Pasokan Komponen
Langkah meningkatkan produksi di tengah kondisi industri saat ini menghadapi hambatan. Kelangkaan RAM global akibat kebutuhan pusat data AI menjadi kendala utama.
>>> Denny Sumargo Atasi GTM Anak dengan Eksplorasi Luar Ruangan
Persediaan prosesor iPhone daur ulang juga berpotensi habis karena penjualan melampaui prediksi. Kapasitas pabrik TSMC untuk arsitektur 3-nanometer sudah penuh.
Apple perlu mencari metode alternatif agar margin keuntungan tidak tergerus. Harga ekonomis USD 599 mungkin sulit dipertahankan.
Respons Kompetitor Windows
Popularitas MacBook Neo memicu respons dari produsen laptop Windows. Asus, HP, dan Dell bersiap meluncurkan lini tandingan dengan harga di bawah USD 600.
Dell menghadirkan kembali varian murah XPS 13 dengan RAM 8GB. Padahal, ahli merekomendasikan RAM 16GB untuk Windows 11.
>>> BI Publikasikan Kurva Imbal Hasil Transaksi Pasar Uang sebagai Acuan Baru
Kuo juga menyinggung tren AI lokal, namun mencatat bahwa sebagian besar pengguna masih memilih layanan AI berbasis cloud.