Kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dinilai berpotensi menghadapi perlawanan dari berbagai pihak.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintahan (Bakom) M Qodari di Jakarta Selatan pada Senin (8/6/2026).
>>> Jorge Martin Minta Maaf Usai Picu Tabrakan Massal MotoGP Hungaria
Menurut Qodari, langkah pembenahan ekonomi nasional yang ditempuh pemerintah saat ini memicu ancaman dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh sistem lama.
Ia melihat adanya reformasi fundamental dalam pengelolaan aset negara.
"Pak Prabowo ini bukan mustahil under attack, undersiege, dalam kepungan, karena melakukan perubahan-perubahan yang sangat fundamental terhadap tata cara berniaga dan tata pengelolaan ekonomi kita," ujar Qodari.
Salah satu perubahan paling fundamental berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam. Pemerintah kini mengevaluasi secara menyeluruh praktik pemanfaatan lahan tambang dan perkebunan.
Evaluasi ini bertujuan mengembalikan kontrol penuh sumber daya alam kepada negara. Hal ini demi kemakmuran masyarakat luas sesuai amanat konstitusi.
>>> GarudaMiles Borong Lima Penghargaan dalam Freddie Awards 2026
Qodari mencontohkan, lahan tambang dan perkebunan seharusnya milik negara, bukan perorangan. Namun, selama ini pengelolaannya menggunakan pinjaman bank negara, sementara devisa hasil penjualan tidak kembali ke Indonesia.
Fokus koreksi pemerintah juga menyasar aktivitas ekspor yang merugikan keuangan negara. Upaya perbaikan diarahkan untuk mengatasi manipulasi harga dan pelaporan pendapatan ekspor yang tidak sesuai.
"Ada under invoicing, ada transfer pricing. Semua itu ingin dikoreksi Pak Prabowo agar pendapatan bangsa dan negara menjadi lebih besar," jelas Qodari.
Uang tersebut akan digunakan untuk kemakmuran rakyat, termasuk ketahanan pangan dan energi.
Langkah konkret lainnya adalah pembentukan lembaga baru untuk mengawasi seluruh transaksi komoditas. Kehadiran badan ini diprediksi akan mendapat tantangan berat dari kelompok tertentu.
>>> Nvidia Luncurkan Superchip RTX Spark untuk Komputer AI di Computex 2026
"Dalam konteks ini, bukan mustahil ada lawan-lawannya, ada kekuatan gelap yang tidak senang, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," tegas Qodari.