Google dan YouTube berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RS Cipto Mangunkusumo, dan Universitas Indonesia untuk meluncurkan "Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja".
Peluncuran ini dilaksanakan di Jakarta pada Senin (8/6/2026).
>>> Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,50% di Luar Jadwal
Panduan digital ini bertujuan mendampingi psikologis remaja dalam menghadapi dinamika era digital. Buku saku ini disusun menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.
Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.
KJ(K), Pakar Psikiatri Anak dan Remaja dan tim penulis utama, menyatakan bahwa buku ini diharapkan menjadi sumber informasi dan panduan praktis.
Teknologi perlu disikapi secara bijaksana oleh generasi muda. Pemanfaatan perangkat digital yang tepat dapat mendorong perkembangan positif tanpa mengorbankan keseimbangan kehidupan nyata.
Inisiatif bertajuk AKSI Digital ini mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sejak Januari lalu. Program ini berfokus pada penyediaan keterampilan praktis bagi ekosistem keluarga dan sekolah.
Celeste Campbell-Pitt, Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC, menambahkan bahwa YouTube telah menjadi sumber daya yang mendorong pembelajaran dan penemuan bagi generasi muda di Indonesia.
Kerja sama lintas sektor ini diharapkan dapat membangun ketangguhan generasi muda. Pengetahuan yang cukup menjadi modal penting bagi remaja untuk bertumbuh di era modern.
Implementasi program ini terintegrasi melalui pelatihan resmi oleh BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta.
>>> Manchester United Diperingatkan Agar Tidak Jual Harry Maguire
Targetnya adalah melatih 2.500 guru Bimbingan Konseling (BK), dan saat ini 1.000 guru telah mengikutinya.
Langkah edukasi ini selaras dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas).
Gerakan ini mencakup penguatan mental usia 13-16 tahun, literasi siber bersama ICT Watch, serta pencegahan perundungan siber dan kecanduan gawai.
YouTube juga merilis inovasi fitur keamanan seperti pengatur durasi menonton Shorts dan pengingat Waktu Tidur. Fitur ini memperkuat platform sebagai ruang kelas digital.
Riset Ipsos pada Agustus 2025 menunjukkan 89 persen orang tua setuju anak mendapat manfaat belajar dari platform YouTube, dan 92 persen menilai pendidikan menjadi lebih mudah diakses.
Bagi pendidik, data riset menunjukkan 82 persen guru terbantu oleh tayangan video untuk menjelaskan materi kompleks, dan 96 persen guru telah mengintegrasikannya ke dalam metode pembelajaran.
Menkomdigi Meutya Hafid mengapresiasi kolaborasi ini dan menekankan peran aktif orang tua serta guru dalam mengawasi aktivitas siber anak.
Melalui PP Tunas, tujuannya bukan melarang anak masuk dunia digital, melainkan menunda hal-hal berbahaya seperti ancaman kontak dengan orang tak dikenal, paparan konten negatif, hingga adiksi.
>>> Aturan Baru Kunjungan Wisatawan di Between Two Gates Kotagede
Penerapan pedoman baru ini diproyeksikan mampu meningkatkan kepercayaan diri orang tua dalam mendampingi dan menjawab pertanyaan kritis anak mengenai dinamika dunia digital.