Sebelumnya, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami akibat adanya tsunami kecil setinggi 9 hingga 18 sentimeter di pesisir Ulu Siau, Melonguane, dan Maluku Utara.
"Kami mengimbau agar masyarakat tetap tenang, dan terus memantau informasi," imbau Puan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran berharga.
"Ini sekaligus menjadi 'alarm latihan' yang menguji apakah sistem peringatan dini, jalur evakuasi, edukasi masyarakat, serta koordinasi antarlembaga benar-benar bekerja sebagaimana mestinya," ujar Puan.
Ia mengingatkan pentingnya perencanaan pembangunan fisik fasilitas publik di kawasan pesisir dengan standar ketahanan bencana yang lebih tinggi.
"Sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, pelabuhan, hingga fasilitas evakuasi di kawasan pesisir harus dirancang dengan standar ketahanan yang lebih tinggi," sebut Puan.
Pendekatan pembangunan tersebut dinilai krusial agar alokasi investasi tidak sia-sia. "Pendekatan pembangunan di daerah-daerah rawan bencana perlu lebih menekankan aspek ketangguhan sejak awal," ujar Puan.
Sebagai wilayah di jalur cincin api dunia, Indonesia dinilai harus fokus meminimalkan dampak merugikan melalui investasi konsisten pada ketangguhan publik.
>>> Australia Bekukan Pendaftaran Lembaga Pendidikan Swasta Baru bagi Mahasiswa Asing
"Sebab tujuan akhir penanganan bencana bukan sekadar memulihkan kondisi, melainkan membangun masyarakat yang lebih siap, lebih aman, dan lebih tangguh ketika bencana datang," pungkas Puan.