⌂ Beranda News Rupiah Menguat ke Rp18.058 Usai Bank Indonesia Naikkan BI Rate

Rupiah Menguat ke Rp18.058 Usai Bank Indonesia Naikkan BI Rate

Rupiah Menguat ke Rp18.058 Usai Bank Indonesia Naikkan BI Rate
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Mata uang Garuda naik 129,5 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp18.058.

>>> Truk Kontainer Seruduk Dua Warung di Cirebon, Satu Tewas

Penguatan terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Keputusan ini diambil melalui Rapat Dewan Gubernur Mingguan.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS sebelumnya berada di level Rp18.187. Sementara itu, data Refinitiv mencatat rupiah sempat dibuka di Rp18.160 sebelum akhirnya menguat.

Langkah Pre-emptive BI

Otoritas moneter mempercepat kenaikan suku bunga di luar jadwal rutin bulanan. Langkah ini bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan antisipasi dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, langkah pre-emptive ini juga untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.

"BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen hari ini.

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah," ujar Ibrahim.

Pemerintah juga memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter antara BI dan Kementerian Keuangan.

Koordinasi ini telah dilakukan sejak akhir pekan lalu untuk menjaga perekonomian nasional dan menyiapkan paket stimulus baru.

>>> Dampak Kenaikan BI Rate dan Respons Pasar Saham

"Koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap pada jalur yang diharapkan," tambah Ibrahim.

Cadangan Devisa dan Sentimen Pasar

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat menyusut menjadi 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Penurunan ini disebabkan oleh pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan obligasi global, dan transaksi perpajakan.

Sebelum keputusan suku bunga, spekulasi rapat darurat sempat merebak akibat pelemahan rupiah yang menyentuh Rp18.200 per dolar AS.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan komitmen bank sentral untuk mengawal pergerakan mata uang melalui intervensi taktis.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah juga didorong oleh meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga minyak dunia menurun setelah Iran dan Israel menghentikan penyerangan sementara.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia oleh meredanya geopolitik di Timteng," kata Lukman.

Namun, Lukman memproyeksikan penguatan akan terbatas karena sentimen domestik yang masih negatif. "Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan," ungkapnya.

>>> Harga Minyak Berfluktuasi Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Bank Indonesia menjadwalkan Rapat Dewan Gubernur bulanan berikutnya pada 17-18 Juni 2026. Rapat koordinasi mingguan tetap berlangsung setiap Selasa dan Kamis.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru