Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen membuka peluang masuknya kembali arus modal asing ke pasar keuangan domestik.
Kebijakan ini tidak hanya bertujuan menahan pelemahan mata uang rupiah.
>>> Australia Kembangkan RoBird, Robot Burung Pemangsa untuk Lindungi Tanaman
Imbal hasil aset yang lebih kompetitif diperkirakan membuat investor global melirik pasar obligasi terlebih dahulu.
Setelah itu, dana asing diprediksi mengalir ke pasar saham untuk memulihkan likuiditas dan sentimen bursa efek.
Peluang Masuknya Dana Asing
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu'tashim, menilai peluang masuknya dana asing tersebut cukup terbuka lebar.
Namun, prosesnya tidak terjadi secara instan ke pasar saham melainkan melalui siklus likuiditas keuangan.
Instrumen pertama yang biasanya merespons kenaikan suku bunga adalah pasar obligasi.
Suku bunga BI yang naik membuat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah ikut meningkat, sehingga menjadi jauh lebih menarik bagi investor.
"Potensinya sangat terbuka, tapi alurnya akan bertahap melalui siklus likuiditas.
Keputusan BI menaikkan suku bunga ini instrumen pertama yang akan langsung merespons dan menarik dana asing adalah pasar obligasi, karena yield yang ditawarkan jadi jauh lebih kompetitif," ujar Faris saat dihubungi Kompas.
com, Selasa (9/6/2026).
Dampak pada Valuasi Saham
Kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang 2026 juga membawa pengaruh signifikan terhadap valuasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan perhitungan keuangan, lonjakan suku bunga ini memicu proses revaluasi karena investor menyesuaikan ekspektasi nilai wajar saham.
"Secara matematis, kenaikan suku bunga sebesar 75 bps (basis poin) dalam waktu yang relatif singkat ini pasti akan memicu terjadinya revaluasi di pasar," imbuhnya.
Suku bunga yang tinggi otomatis mengerek tingkat diskonto (discount rate) dalam perhitungan valuasi saham.
Kondisi ini membuat nilai saat ini (present value) dari potensi arus kas serta keuntungan masa depan perusahaan menjadi lebih rendah.
