⌂ Beranda News IPO SpaceX Diprediksi Ubah Arah Aliran Modal Global

IPO SpaceX Diprediksi Ubah Arah Aliran Modal Global

IPO SpaceX Diprediksi Ubah Arah Aliran Modal Global
Ilustrasi rencana IPO SpaceX yang berpotensi mengubah arah aliran modal global
A A Ukuran Teks16px

Rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) SpaceX dengan valuasi mendekati 1,75 triliun dollar AS pada Rabu (10/6/2026) diprediksi berpotensi mendefinisikan ulang arah aliran modal serta memengaruhi likuiditas pasar investasi global.

Perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut tengah menyiapkan target pendanaan lebih dari 25 miliar dollar AS melalui layanan internet satelit Starlink yang kini telah menjangkau lebih dari 100 negara.

>>> Kemenhan Ajukan Tambahan Anggaran Rp 195 Triliun ke DPR

Langkah korporasi berskala besar di pasar saham tradisional ini diperkirakan dapat menarik sebagian modal institusional yang sebelumnya mengalir ke pasar kripto untuk mencari pertumbuhan tinggi.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menjelaskan bahwa respons pasar terhadap aksi korporasi ini akan merefleksikan bagaimana kondisi psikologis pelaku pasar dalam menghadapi risiko saat ini.

"Jika penyerapannya kuat, itu konfirmasi bahwa selera risiko global masih sehat dan investor masih percaya pada pertumbuhan jangka panjang sektor teknologi," ujar Fahmi.

"Kalau sebaliknya, itu bisa jadi tanda bahwa likuiditas global mulai mengetat lebih serius dari yang kita perkirakan," tambahnya.

Pengetatan likuiditas global ini juga berjalan beriringan dengan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) serta koreksi yang sedang menekan pasar aset digital.

Fahmi menilai pergeseran modal ini menuntut strategi penempatan dana yang lebih matang dari para pelaku pasar.

>>> Peluang Juara Indonesia di Australian Open 2026 Makin Terbuka

"Dalam kondisi seperti ini, pendekatan investasi yang disiplin dan terdiversifikasi jauh lebih relevan dibanding upaya mengejar momentum jangka pendek," papar Fahmi.

Di tengah posisi indeks S&P 500 dan Nasdaq yang bertahan dekat rekor tertinggi, Bitcoin justru tercatat mengalami penurunan nilai lebih dari 20 persen dalam sebulan terakhir dan 10 persen dalam sepekan.

Fahmi melihat fenomena penurunan nilai aset berisiko tinggi tersebut sebagai fase pendewasaan pasar di mana investor menjadi lebih selektif.

"Investor sekarang tidak bergerak serentak ke satu arah. Modal tersebar ke berbagai tema seperti AI, infrastruktur digital, energi, dan robotik," tukas Fahmi.

Ia menambahkan bahwa di kripto pun, hanya aset dengan fundamental dan narasi yang benar-benar kuat yang mendapat perhatian serius.

>>> Kapolri Tegaskan Rekrutmen Taruna Akpol Bebas Kuota Khusus

"Ini sebenarnya sinyal positif untuk kesehatan pasar jangka panjang, tapi memang menuntut pendekatan yang lebih terukur dari investor," tutupnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru