Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan sembilan kebijakan strategis guna memitigasi risiko ketidakpastian global yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027.
Langkah antisipatif ini dipaparkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI.
>>> Kapolri Perintahkan Jajaran Kawal Kebijakan Strategis dan Awasi Devisa
Sembilan strategi tersebut dirancang agar kebijakan fiskal tetap responsif dalam menghadapi gejolak geopolitik, tekanan harga energi, dan perlambatan ekonomi dunia.
Pemerintah memprioritaskan stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebagai upaya mengendalikan inflasi dan melindungi daya beli masyarakat.
Selain BBM, stabilitas harga pangan menjadi fokus utama berikutnya melalui pengamanan stok beras nasional dan pasokan energi.
Disiplin fiskal tetap dipertahankan dengan target defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) melalui efisiensi belanja yang produktif.
Pemerintah juga mengoptimalkan pendapatan negara berbasis sumber daya alam (SDA) yang dibarengi penguatan stabilitas makroekonomi.
>>> Tersangka Korupsi Bea Cukai Akui Pakai Uang Suap untuk Keluarga
Langkah ini diwujudkan melalui pengaturan devisa hasil ekspor (DHE) serta perbaikan tata kelola ekspor komoditas strategis.
Paket stimulus ekonomi seperti diskon tiket transportasi, bantuan pangan, insentif perumahan, serta program magang akan dilanjutkan untuk menopang pertumbuhan.
Pemerintah mengubah pola penyerapan belanja negara dari lambat di awal menjadi cepat di awal agar lebih merata dan kuat menopang pertumbuhan ekonomi.
Langkah pamungkas dari strategi ini adalah penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
>>> Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Mendadak, Apa Dampaknya?
Kombinasi seluruh kebijakan tersebut dinilai akan menjadi fondasi yang kokoh dalam menghadapi dinamika ekonomi global pada masa mendatang.