Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, membantah kabar bahwa kenaikan harga Pertamax dipicu oleh kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) yang menipis.
Penyesuaian komersial ini meluncurkan harga baru Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dari Rp 12.300 per liter.
>>> Trump Peringatkan Iran Akibat Penundaan Negosiasi Damai
Sementara Pertamax Green melonjak menjadi Rp 17.000 per liter dari harga awal Rp 12.900 per liter.
Danantara menekankan bahwa Pertamax tergolong bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Harganya harus disesuaikan dengan fluktuasi pasar global.
“Oh bukan (karena kondisi keuangan Pertamina), ini perlu diluruskan.
Teman-teman harus lebih memahami, bahwa Danantara itu kan berlaku secara komersial, dan memang di undang-undangnya juga untuk yang non-subsidi itu mengikuti harga pasar,” ujar Dony.
Fluktuasi harga minyak mentah Brent saat ini tertahan di level 93 dollar AS per barrel. Ini menyusul ketegangan di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026.
>>> Ekonomi Sulawesi Selatan Tumbuh 6,88 Persen, Tertinggi Keenam Nasional
Padahal nominal Pertamax tidak mengalami revisi sejak awal Maret 2026. Dony mengutarakan bahwa penahanan harga BBM non-subsidi secara terus-menerus tidak tepat dilakukan.
Segmentasi konsumennya merupakan masyarakat kalangan menengah ke atas. “Memang mandatnya kalau Pertamax itu harus mengikuti harga pasar kan, kalau tidak, nanti masak ditanggung terus-terusan.
Karena itu kan untuk kelas menengah ke atas,” ucap Dony.
Langkah penyesuaian tarif ini dipastikan telah memperoleh restu resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Angka yang ditetapkan diklaim masih berada di bawah nilai keekonomian riil.
“Itu pun sebetulnya kita hanya 50 persen dari harga riil-nya.
>>> Jadwal Semifinal AFF U19 2026: Thailand vs Kamboja, Indonesia vs Australia
Dan itu sudah melewati proses dengan Menteri ESDM, jadi Kementerian ESDM melalui Dirjen menyepakati untuk melakukan itu,” jelas Dony.