Bank Indonesia (BI) meningkatkan langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional sebagai bagian dari pengendalian inflasi.
Langkah ini diambil guna menghadapi lonjakan risiko global, tekanan pada nilai tukar rupiah, serta tantangan dari perubahan iklim.
>>> Harga BBM Pertamax Resmi Naik Jadi Rp 16.250 Per Liter
Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menjelaskan bahwa ketahanan pangan menjadi fondasi utama untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Menurutnya, ketidakpastian global saat ini memberikan dampak nyata pada ketersediaan pasokan pangan di dalam negeri.
Faktor-faktor risiko tersebut meliputi ketidakpastian harga komoditas dunia, kebijakan pembatasan ekspor dari beberapa negara, hingga lonjakan biaya logistik dan aktivitas impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah juga berpotensi menaikkan harga pangan impor serta biaya sarana produksi di sektor pertanian.
"Ini perlu menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi.
Penguatan ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga stabilitas perekonomian," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).
Guna mengatasi tantangan ini, BI mendorong sektor perbankan untuk memperluas penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor pangan.
Dukungan pembiayaan tersebut difokuskan pada sektor pertanian, industri pengolahan, serta program hilirisasi pangan.
Langkah mendorong pembiayaan tersebut direalisasikan melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Selain itu, BI berupaya mendongkrak produktivitas, memastikan kelancaran rantai distribusi, dan menjaga stabilitas harga komoditas pangan.
Implementasi di lapangan dijalankan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). BI berharap program ini dapat menekan gejolak harga secara efektif di masyarakat.
>>> Prabowo: Indonesia Capai Swasembada Pangan di Tengah Krisis Global
"Dengan tekanan harga yang tetap terkendali, daya beli masyarakat dapat terlindungi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," ucap Ricky.
Inovasi dari BRIN
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai inovasi di sektor hulu menjadi solusi utama untuk meredam fluktuasi harga pangan.
Inovasi ini sangat krusial bagi komoditas volatile food yang mudah terpengaruh oleh pergantian musim dan cuaca ekstrem.
