⌂ Beranda News Apical Group Kembangkan Program Sustainable Living Village untuk Seimbangkan Ekonomi dan Ekologi

Apical Group Kembangkan Program Sustainable Living Village untuk Seimbangkan Ekonomi dan Ekologi

Apical Group Kembangkan Program Sustainable Living Village untuk Seimbangkan Ekonomi dan Ekologi
Petani menunjukkan madu trigona hasil budidaya program Sustainable Living Village di Aceh Singkil
A A Ukuran Teks16px

Apical Group mengembangkan Program Sustainable Living Village (SLV) sebagai model baru pembangunan desa berkelanjutan.

Program ini menempatkan masyarakat sebagai pusat perubahan dengan menyeimbangkan aspek ekonomi dan ekologi secara bersamaan.

>>> Sejarah Insiden Kecelakaan Pesawat yang Diduga Sengaja Dijatuhkan Pilot

SLV merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan rantai pasok Apical Group melalui prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation).

Pendekatan ini tidak hanya fokus pada produksi di hilir, tetapi juga memastikan praktik berkelanjutan terjadi sejak di hulu, termasuk petani swadaya.

Manager Corporate Social Responsibility Apical, Sugiantoro, menjelaskan bahwa model SLV dikembangkan dengan pendekatan komoditas yang disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah.

Selain di Aceh Singkil, program serupa juga dijalankan di Kutai Timur, Kalimantan Timur, melalui pengembangan kakao sebagai alternatif penghidupan.

Budidaya Madu Trigona di Aceh Singkil

Di Aceh Singkil, SLV diwujudkan melalui budidaya madu trigona sebagai alternatif penghidupan masyarakat di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Produksi madu ini tidak membutuhkan pembukaan lahan baru karena memanfaatkan lahan pekarangan yang ada.

Lebah trigona aman karena tidak menyengat dan membantu proses penyerbukan tanaman sekitar. Masyarakat mulai mengurangi ketergantungan dari hasil sawit dan meninggalkan kebiasaan berburu madu alam.

Dalam enam bulan terakhir, enam kelompok binaan menghasilkan sekitar 279 liter madu trigona dengan nilai penjualan lebih dari Rp 80 juta.

Pendapatan tersebut dibagikan kepada 61 penerima manfaat sesuai hasil produksi masing-masing.

Menurut Sugiantoro, budidaya madu dipilih karena masyarakat sudah terbiasa dengan aktivitas mencari madu di hutan.

Madu trigona diperkenalkan agar mereka bisa membudidayakannya di sekitar tempat tinggal tanpa harus masuk hutan.

Kolaborasi Multipihak

Program SLV dijalankan melalui kolaborasi multipihak antara Apical Group, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), serta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.

Kolaborasi ini menjadi fondasi tata kelola lanskap yang lebih baik dan inklusif bagi petani swadaya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru