PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memantau ketat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Langkah ini diambil sebelum perusahaan memutuskan penyesuaian harga jual kendaraan.
>>> San Antonio Spurs Tekuk New York Knicks di Game Tiga Final NBA 2026
Pelemahan rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada Selasa (9/6/2026).
Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi industri otomotif nasional.
Penguatan dolar AS memicu kenaikan biaya produksi karena banyak komponen dan bahan baku masih diimpor.
Manajemen Daihatsu menyatakan koreksi harga jual masih dipertimbangkan secara matang.
Evaluasi berkala dilakukan untuk melihat stabilitas nilai tukar ke depan.
"Masih waiting sih.
Kita tidak bisa menghindari, dengan kenaikan dollar ini pasti akan terjadi koreksi terhadap kenaikan," ujar Agung kepada Kompas.
>>> Selisih Harga Beli dan Buyback Emas Antam Melebar Jadi Rp294 Ribu per Gram
com.
Meski tekanan penguatan dolar mempersulit biaya produksi, Daihatsu tidak akan membebankan seluruh tambahan biaya kepada konsumen.
Perusahaan mengandalkan tingkat lokalisasi komponen yang tinggi untuk menyerap dampak eksternal.
Basis produksi lokal dan kontribusi ekspor kendaraan serta komponen menjadi benteng pertahanan utama.
"Tidak semua kenaikan biaya produksi akan diturunkan kepada customer. Sebab kita didukung oleh lokalisasi, yang kedua juga masih didukung ekspor," kata Agung.
Sebelumnya, Daihatsu telah meresmikan pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang Timur, Jawa Barat, pada Kamis (27/2/2025).
>>> Pramono Anung Izinkan Nobar Piala Dunia di Fasilitas Pemprov DKI
Fasilitas ini melengkapi infrastruktur manufaktur dalam menghadapi dinamika pasar otomotif ke depan.