Sepak bola lahir dari kekacauan. Pada era 1860-an, permainan ini hanya untuk mereka yang berotot kuat.
Kini, taktik dan struktur telah mengubah wajahnya.
>>> Polisi Tangkap Pencuri Laptop dan Ponsel di Apartemen Kelapa Gading
Dalam buku Inverting The Pyramid, Jonathan Wilson menulis bahwa sepak bola awalnya tak berbentuk. Era Victoria kemudian mengkodifikasikannya, dan para ahli teori mulai menganalisis taktik pada akhir 1920-an.
Persoalan Menuju Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Meksiko, dan Kanada menghadapi berbagai tantangan. Isu imigrasi menjadi sorotan setelah Fabio Cannavaro dan timnas Senegal diperiksa ketat di bandara.
Wasit FIFA asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, ditolak masuk AS karena terkait travel ban.
Sementara itu, timnas Iran harus memindahkan kamp latihan dari Arizona ke Meksiko akibat ketegangan politik.
Jepang juga mengalami kendala. Mereka pindah lapangan latihan di Meksiko karena fasilitas awal dianggap tak memadai.
Kerusuhan kartel di Jalisco dan harga tiket tinggi di Kanada menambah daftar masalah.
Cuaca ekstrem juga mengancam jadwal pertandingan. Namun, FIFA dan pihak penyelenggara terus berupaya mencari solusi.
>>> DPR: Pemerintah Siapkan Strategi Khusus Perkuat Rupiah Pekan Depan
Konsep 'Organised Disorder'
Di tengah kekacauan, sepak bola selalu menemukan jalannya. Final Piala Dunia 2022 yang epik antara Argentina dan Prancis lahir dari kontroversi.
Piala Dunia 1986 di Meksiko menjadi hiburan pasca gempa besar.
Konsep 'organised disorder' atau kekacauan terkendali pertama kali diperkenalkan Boris Arkadiev di Dynamo Moscow pada 1940-an. Timnya menggunakan sistem operan cepat dan pertukaran posisi yang membingungkan lawan.
Argentina membawa semangat serupa melalui la nuestra, yang menekankan kebebasan dan keindahan bermain. Di bawah Lionel Scaloni, Argentina menerapkan tujuh struktur berbeda dalam tujuh pertandingan Piala Dunia 2022.
Lionel Messi menjadi elemen chaos yang memperkaya taktik. Pengaruhnya terhadap rekan setim dan lawan tetap besar, meski tak lagi menjadi penentu tunggal.
Pep Guardiola juga mencari elemen tak terduga melalui pemain seperti Jeremy Doku. Ia menyukai improvisasi di kotak penalti, meski membenci dribel panjang tanpa tujuan.
Evolusi taktik membuat sepak bola lebih rapi, namun figur seperti Messi memberikan sentuhan manusia.
>>> Pertamina, BP, dan Vivo Naikkan Harga BBM Nonsubsidi per 10 Juni 2026
Semoga chaos hanya terjadi di lapangan, bukan di luar, sehingga Piala Dunia 2026 menjadi pesta pemersatu.