Setiap kali harga bahan bakar minyak (BBM) naik, perdebatan yang muncul hampir selalu sama: inflasi, daya beli, dan subsidi.
Sebagian khawatir harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik. Sebagian lainnya mempertanyakan mengapa negara kaya sumber daya energi masih harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar.
>>> Momen Emosional Messi Bertemu Anak Eks Rekan Setim di Barcelona
Namun, persoalannya jauh lebih mendasar.
Kenaikan harga BBM hanyalah gejala dari tantangan lebih besar, yakni bagaimana Indonesia membangun ekonomi yang cukup produktif untuk tidak terus-menerus bergantung pada energi murah sebagai penopang pertumbuhan.
Energi Murah Jadi Ilusi Daya Saing
Selama bertahun-tahun, subsidi energi sering dipandang sebagai instrumen menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat. Dalam batas tertentu, tujuan tersebut relevan.
Namun, ketika subsidi menjadi terlalu dominan, muncul risiko terciptanya ilusi daya saing.
Ekonom Michael Porter dalam teori competitive advantage menjelaskan bahwa daya saing suatu negara tidak dibangun oleh biaya murah semata, melainkan oleh produktivitas yang tinggi.
Negara kompetitif tidak bergantung pada energi murah, mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar dari setiap unit energi, modal, dan tenaga kerja yang digunakan.
Pengalaman Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Nordik menunjukkan hal tersebut. Mereka tidak memiliki keunggulan energi murah, bahkan sangat bergantung pada impor energi.
Namun, melalui inovasi teknologi, efisiensi industri, dan investasi sumber daya manusia, mereka mampu membangun ekonomi yang jauh lebih produktif dan tahan terhadap gejolak harga energi.
Indonesia menghadapi tantangan berbeda. Di satu sisi, kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.
Di sisi lain, produksi minyak domestik cenderung menurun dalam dua dekade terakhir, sehingga ketergantungan terhadap impor energi masih relatif tinggi.
Akibatnya, setiap kenaikan harga minyak dunia atau pelemahan nilai tukar rupiah langsung menciptakan tekanan ganda terhadap perekonomian nasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata pada harga BBM, melainkan pada struktur ekonomi yang masih rentan terhadap guncangan energi eksternal.