⌂ Beranda News Menteri KKP Ungkap Kelemahan Industri Udang Penyebab Harga Anjlok

Menteri KKP Ungkap Kelemahan Industri Udang Penyebab Harga Anjlok

Menteri KKP Ungkap Kelemahan Industri Udang Penyebab Harga Anjlok
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR
A A Ukuran Teks16px

Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan sejumlah kelemahan dalam struktur industri udang domestik dari hulu hingga hilir.

Hal ini diungkapkannya saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta Pusat pada Kamis (11/6/2026).

>>> Kemenhub Gandeng Finnet Sediakan Payment Gateway untuk MaritimHub

Menurut Trenggono, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang seharusnya menguntungkan sektor ekspor, ternyata tidak memberikan dampak optimal pada komoditas udang.

Bahkan, penurunan harga terjadi di beberapa wilayah meskipun udang merupakan komoditas ekspor unggulan.

Kondisi rapuh tata kelola udang nasional ini diakui langsung oleh kementerian dalam forum resmi legislatif tersebut. "Kenapa ketika nilai tukarnya tinggi?

Kemudian kenapa harga udang kita di beberapa titik ya, tidak semua sebenarnya, itu mengalami penurunan? Memang benar, kita masih lemah semua," ujar Trenggono.

Kelemahan Sektor Hulu dan Hilir Industri Udang

Salah satu pemicu utama anjloknya harga udang adalah masalah pembenihan (hatchery) yang belum memadai.

Menteri Trenggono mendesak keterlibatan aktif akademisi dari IPB, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menggencarkan penelitian benih.

>>> Prabowo Batal Bertemu Kepala BGN, Laporan Efisiensi Anggaran Ditunda

"Selalu saya sampaikan kepada teman-teman di perguruan tinggi, khususnya di IPB, Brawijaya, Undip, untuk coba lho, dilakukan satu penelitian-penelitian.

Juga kepada BRIN. Mudah-mudahan BRIN segera menangkap juga, karena kepala BRIN nya sekarang kan dari IPB.

Nah, hatchery itu juga persoalan," tambah Trenggono.

Selain itu, sektor hulu juga dibebani oleh tingginya ketergantungan pada bahan baku pakan impor.

Langkah substitusi menggunakan komponen lokal berupa tepung ikan dilaporkan belum berjalan optimal, meskipun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berdiri selama 26 tahun.

"Pakan ini boleh dibilang, saya bisa nyebut 100% pakan itu masih bahan bakunya impor, sudah sekian tahun KKP lahir, 26 tahun sudah, tetapi kemudian substitusi bahan baku, bahan baku tepung ikan sebagai satu komponen utama sampai hari ini belum bisa dilakukan dengan baik.

>>> Ular Piton 7,8 Meter Tewaskan Wanita di Pulau Taliabu

Ini kita langsung bergerak melakukan transformasi," jelasnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru