Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga 31,93 persen sepanjang tahun berjalan 2026. Aksi jual bersih investor asing tercatat mencapai Rp78,33 triliun.
Tekanan pasar modal dalam negeri berlanjut pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Modal asing kembali keluar senilai Rp261,60 miliar pada hari itu.
>>> Tecno Pova 8 5G Resmi di India, Baterai 8.000 mAh Siap Masuk RI
Kurs rupiah ikut melemah 0,25 persen menjadi Rp17.988,5 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan dipicu kenaikan data Producer Price Index (PPI) AS pada Mei 2026 yang mencapai 6,5 persen.
Sentimen Moneter AS dan Proyeksi Pasar
Situasi makroekonomi tersebut menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve. Keputusan The Fed di bawah pimpinan baru, Kevin Warsh, dinantikan pekan depan.
Meski volatilitas tinggi, pergerakan IHSG pada Jumat (12/6/2026) diproyeksikan masih berpeluang menguat terbatas.
Support berada di area 5.803 hingga 5.688, sementara resistance di 6.058 sampai 6.178.
>>> Yamaha Luncurkan MX King 150 Edisi Prima Pramac Livery di PRJ 2026
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan pola bearish doji star candle dan indikator teknikal masih memberikan sinyal positif.
Volume transaksi memang menyusut, namun koreksi terjadi karena likuidasi jangka pendek setelah penguatan signifikan sebelumnya.
Nafan menyarankan investor tetap memperhatikan saham berfundamental kuat, bervaluasi murah, dan menunjukkan tanda pembalikan tren. Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen risiko yang disiplin di tengah fluktuasi pasar.
Di sisi lain, pasar keuangan mendapat sentimen positif dari pelonggaran ketegangan geopolitik global. Presiden AS Donald Trump mengumumkan finalisasi dokumen kesepakatan dengan Iran di Eropa.
Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah penandatanganan dokumen final. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran juga akan dicabut.
>>> Mengenal Sejarah Kopi Java yang Mendunia Lewat Jalur Perdagangan VOC
Realisasi kesepakatan internasional itu diperkirakan membuka kembali jalur distribusi energi dunia. Perkembangan ini diharapkan meredakan ketidakpastian global dan berdampak positif bagi pasar saham Indonesia.