Presiden Prabowo Subianto membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Lampung, pada Rabu (10/6/2026).
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa nasionalisme harus menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan nasional.
>>> Kapal Aceh Hebat 2 Meledak di Pelabuhan Ulee Lheu, 14 Orang Terluka
Langkah penguatan domestik dinilai krusial di tengah ancaman krisis pangan global. Pemerintah juga memacu program industrialisasi berbasis hilirisasi agar komoditas nasional dapat diolah di dalam negeri.
Swasembada Pangan dan Kemandirian Energi
Presiden menyampaikan rasa syukur atas pencapaian Indonesia yang kini telah berhasil meraih status swasembada pangan. "Kita bersyukur kekuatan kita besar, akan ada tantangan kita sekarang sudah swasembada pangan.
Sudah swasembada pangan, jangan kau anggap pangan itu tidak penting," kata Prabowo.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah negara saat ini mulai mengalami kepanikan akibat kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi kelaparan global yang masif pada tahun ini.
"Tanpa pangan tidak ada Republik mana pun di dunia ini, tidak ada negara tanpa pangan. Banyak negara sekarang dalam keadaan panik, mereka sulit cari makan.
PBB sudah warning tahun ini akan ada kelaparan besar-besaran, kita alhamdulillah kuat," lanjutnya.
Selain sektor pangan, pemerintah berfokus pada kemandirian energi nasional yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun ke depan.
Kebijakan hilirisasi komoditas diproyeksikan menjadi peluang besar bagi pertumbuhan pengusaha muda domestik.
"Kita sedang bekerja keras hitungan kita tiga tahun lagi kita bener-bener sangat kuat di bidang energi saudara-saudere sekalian," ujarnya.
Pasar Domestik untuk Putra-Putri Indonesia
Presiden menekankan bahwa pasar domestik Indonesia harus dikuasai oleh komoditas dan industri hasil karya anak bangsa. Pemerintah berkomitmen agar potensi ekonomi tersebut tidak dimanfaatkan oleh industri asing.
"Ini kesempatan untuk pengusaha-pengusaha muda bangkit karena kita tidak mau hanya jadi pasarnya bangsa lain. Kita mau pasar Indonesia harus dinikmati oleh putra-putri Indonesia," ujarnya.