Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperketat pengawasan realisasi kuota Pertalite. Langkah ini untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi akibat migrasi pengguna BBM nonsubsidi.
PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green Rp 17.000 per liter sejak 10 Juni.
>>> Sabar/Reza ke Final Australian Open 2026 Usai Kalahkan Wakil Taiwan
Hal ini mendorong potensi pergeseran konsumen ke Pertalite.
Pemerintah menetapkan kuota Pertalite tahun ini sebesar 29,2 juta kiloliter. Harga Pertalite di pasaran tetap Rp 10.000 per liter.
Koordinasi dan Mitigasi
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga. Pemantauan tren konsumsi harian dilakukan pasca penyesuaian harga.
"Itu juga fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada kemungkinan besar pergeseran. Alhamdulillah tidak terlalu besar shiftingnya," ujar Dwi Anggia.
>>> Swedia Kerahkan Jet Tempur Gripen Cegat Pesawat Rusia di Laut Baltik
Kementerian ESDM menyiapkan langkah mitigasi untuk mencegah lonjakan konsumsi BBM bersubsidi. Salah satunya dengan memperkuat pemanfaatan sistem QR Code di lapangan.
"Antisipasi, mitigasi pasti dilakukan. Menteri ESDM sudah meminta Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah," tutur Dwi Anggia.
Pemerintah menekankan perlunya kerja sama dari konsumen agar distribusi energi subsidi tepat sasaran. "Yang paling penting kesadaran dari masyarakat yang tumbuh.
Mana yang haknya, mana yang bukan haknya," kata Dwi Anggia.
>>> Asosiasi Ojol Nusantara Jambi Tegaskan Kemitraan Kemanusiaan dengan Polri
Pemilik kendaraan diimbau memperhatikan spesifikasi mesin. Mobil jenis LCGC misalnya, berdasarkan regulasi, diharuskan menggunakan BBM RON 92.