⌂ Beranda News Konflik Timur Tengah Hambat Penerbangan dan Naikkan Harga Tiket Pesawat

Konflik Timur Tengah Hambat Penerbangan dan Naikkan Harga Tiket Pesawat

Konflik Timur Tengah Hambat Penerbangan dan Naikkan Harga Tiket Pesawat
Pesawat terbang di bandara saat senja
A A Ukuran Teks16px

British Airways menangguhkan penerbangan ke Dubai, Tel Aviv, Bahrain, dan Amman hingga 25 Oktober. Lufthansa bersama SWISS dan ITA Airways juga menunda layanan ke Dubai hingga 13 September.

Kondisi operasional yang tidak menentu ini berjalan beriringan dengan tekanan finansial industri penerbangan. Pembatasan pasokan minyak global dan penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama.

>>> Julen Lopetegui Tegaskan Kesiapan Qatar Hadapi Swiss di Piala Dunia

IATA mencatat harga bahan bakar jet diproyeksikan melonjak menjadi 152 dollar AS per barel pada 2026.

Angka ini naik tajam dari tahun sebelumnya yang berada di bawah 100 dollar AS.

Pakar penerbangan menjelaskan bahwa sebagian kenaikan biaya bahan bakar terpaksa dibebankan kepada konsumen. Margin keuntungan maskapai yang tipis menjadi alasan utama.

Situasi ini diperparah oleh lonjakan aktivitas perjalanan musim panas yang bertepatan dengan Piala Dunia FIFA 2026, 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

"Banyak pihak masih akan menghadapi situasi ini dalam waktu yang lama dan saya memperkirakan tarif (tiket pesawat) akan tetap tinggi," kata Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA, Marie Owens Thomsen dalam pertemuan tahunan di Rio de Janeiro, Brasil.

>>> Cristiano Ronaldo Optimistis Tatap Piala Dunia 2026 Bersama Skuad Portugal

Pemulihan harga minyak global menuju level normal diprediksi memerlukan waktu yang cukup lama.

"Butuh waktu lama sebelum harga minyak Brent kembali ke level 60 dollar AS (sekitar Rp 1,09 juta) per barel seperti yang terjadi pada Januari lalu," ujar Thomsen.

Di sisi lain, Direktur Riset Global Fuels and Refining dari S&P Global, Eleanor Budds, menilai peningkatan mobilitas selama musim puncak dapat mengalihkan kapasitas kilang.

Produksi bensin lebih diutamakan ketimbang avtur, sehingga memicu keterbatasan pasokan bahan bakar pesawat.

Meskipun stabilitas pasar energi nantinya tercapai, perbaikan rantai pasok logistik dan infrastruktur yang terdampak konflik diperkirakan memerlukan waktu sedikitnya empat hingga lima bulan.

>>> Australia Juara Piala AFF U-19 2026 Usai Taklukkan Thailand 2-0

Tantangan industri penerbangan global saat ini juga mencakup keterlambatan pengiriman armada serta mesin baru yang berdampak langsung pada kapasitas operasional seluruh maskapai.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru