Fenomena remaja yang sering tidur larut malam kini menjadi persoalan kesehatan serius.
Penelitian terbaru dari University of Minnesota School of Public Health menemukan bahwa durasi tidur remaja saat ini lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya.
>>> Hasil Brasil vs Maroko 14 Juni 2026: Imbang 1-1 di Babak Pertama
Kondisi kurang tidur ini tidak hanya memicu rasa lelah, tetapi juga berkaitan erat dengan gangguan kesehatan mental, penurunan prestasi akademik, hingga risiko penyakit kronis di masa depan.
Penurunan Waktu Tidur Selama Tiga Dekade
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 12 Mei 2026 menganalisis data lebih dari 400 ribu siswa kelas 8, 10, dan 12 di Amerika Serikat.
Data dari tahun 1991 hingga 2023 menunjukkan tren penurunan waktu tidur yang konsisten di semua kelompok usia.
Berdasarkan data terbaru, hanya sekitar 22 persen remaja usia lebih tua yang tidur minimal tujuh jam setiap malam.
Padahal, anak usia sekolah idealnya membutuhkan delapan hingga sepuluh jam istirahat per hari.
Penulis utama penelitian, Rachel Widome, menyoroti konsistensi penurunan ini.
"Yang mencolok bukan hanya remaja tidak mendapatkan tidur yang cukup, tetapi juga bagaimana waktu tidur terus menurun selama lebih dari tiga dekade," ujar profesor di School of Public Health tersebut.
Dampak pada Tumbuh Kembang
Dampak minimnya waktu istirahat melampaui rasa kantuk di kelas.
Studi dari University of Zurich dan University Children's Hospital Zurich menegaskan bahwa kurang tidur memengaruhi kemampuan belajar, perkembangan fisik, dan kesehatan mental remaja.
Pakar pediatri perkembangan Oskar Jenni menjelaskan bahwa faktor biologis membuat jam tidur remaja bergeser lebih larut.
>>> Dishub DKI Jakarta Tiadakan Car Free Day 14 Juni 2026 untuk Acara Internasional
"Kurang tidur kronis tidak hanya memengaruhi kesejahteraan, tetapi juga berdampak terukur pada kesehatan mental, perkembangan fisik, dan kemampuan belajar," katanya.
Pergeseran jam biologis alami selama masa pertumbuhan membuat remaja sulit tidur lebih awal. Situasi diperparah ketika jadwal masuk sekolah terlalu pagi, sehingga kebutuhan tidur tidak terpenuhi.
Solusi Jadwal Sekolah Fleksibel
Uji coba perubahan jadwal sekolah di Swiss menunjukkan hasil positif.
Sebuah sekolah menengah di St. Gallen menerapkan sistem jam belajar fleksibel, di mana siswa dapat memilih datang pukul 07.30 atau 08.30 pagi.
Sebanyak 95 persen siswa memilih masuk lebih siang.
Dampaknya, mereka bangun 40 menit lebih lambat dan memperoleh tambahan waktu tidur rata-rata 45 menit pada hari sekolah.
Penulis utama penelitian, Joëlle Albrecht, memaparkan peningkatan kualitas hidup dan berkurangnya gangguan tidur pada siswa.
"Para siswa melaporkan lebih sedikit masalah untuk mulai tidur, dan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan meningkat," ujarnya.
Peneliti Reto Huber menilai kebijakan memundurkan jam pelajaran pagi dapat menjadi langkah strategis.
>>> Arsenal Dominasi Nominasi Pemain Terbaik PFA 2026
"Memulai pelajaran lebih siang dapat memberikan kontribusi signifikan untuk mengatasi krisis kesehatan mental yang dialami pelajar," kata Huber.