⌂ Beranda News Dokter Andik Wijaya Temukan Risiko Jantung Koroner Tinggi Meski LDL Normal

Dokter Andik Wijaya Temukan Risiko Jantung Koroner Tinggi Meski LDL Normal

Dokter Andik Wijaya Temukan Risiko Jantung Koroner Tinggi Meski LDL Normal
Dokter memeriksa hasil skrining jantung koroner
A A Ukuran Teks16px

Seorang dokter dari YADA Institute, Andik Wijaya, mendapati dirinya memiliki risiko tinggi penyakit jantung koroner setelah menjalani pemeriksaan coronary artery calcium score pada April 2024.

Temuan ini mengejutkan karena kadar kolesterol LDL miliknya selama ini tidak berada di level ekstrem.

>>> Eskalator Pasar Tanah Abang Blok B Berhenti Mendadak Akibat Kelebihan Beban

"Saya pikir selama ini saya cukup menjaga kesehatan," kata dr. Andik saat diwawancarai Kompas. com, Jumat (12/6/2026).

Pemeriksaan tersebut memperlihatkan skor kalsium koroner mencapai 431. Angka ini mengindikasikan kerentanan tinggi terhadap serangan jantung dan stroke.

Padahal, kadar LDL miliknya selama bertahun-tahun hanya berkisar antara 100 hingga 120 mg/dL.

"LDL saya rata-rata sekitar 100 sampai 120 yang kalau kita periksa di standar laboratorium memang tinggi, tapi bukan yang sangat tinggi," ujarnya.

Pentingnya Skrining Rutin

Sebelum menjalani skrining, ia merasa kondisi tubuhnya baik-baik saja dan tidak mengantisipasi adanya masalah medis yang berat pada organ jantungnya.

"Makanya saya sangat percaya diri waktu mau screening. Saya pikir tidak akan ada masalah yang serius," kata Andik.

Berdasarkan penelusuran literatur, batas aman LDL untuk meminimalkan risiko jantung koroner berada di bawah 70 mg/dL.

>>> Huawei Luncurkan HarmonyOS 7 dengan Tampilan Kaca dan Performa AI yang Lebih Mendalam

Angka ini lebih rendah dari batas atas normal standar laboratorium yang umumnya 100 mg/dL.

"Nah, kalau ini kemudian ditambah ada inflamasi atau peradangan, ya sudah bisa masuk ke pembuluh darah," ujarnya.

Proses penumpukan plak di pembuluh darah juga dipicu oleh faktor peradangan internal tubuh yang dipengaruhi lingkungan eksternal, seperti paparan polusi udara atau asap rokok sekunder.

Faktor genetika turut memperbesar risiko. Kakak Andik memiliki riwayat fatal akibat stroke dan anggota keluarga lain menggunakan ring jantung.

"Polusi udara, misalnya. Kita tidak merokok, tapi di sebelah kita ada perokok.

Itu juga bisa masuk," ujarnya.

Kondisi tanpa gejala klinis sebelum pemeriksaan membuat Andik menyimpulkan bahwa evaluasi medis secara berkala sangat krusial, terutama bagi individu dengan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular.

>>> Skotlandia Puncaki Klasemen Grup C Usai Tekuk Haiti di Foxborough

"Hasil pemeriksaan itu yang membuat saya sadar ada masalah yang harus segera ditangani," kata dr. Andik.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru