⌂ Beranda News Kenali Ciri Atasan Toksik yang Merusak Mental dan Karier Karyawan

Kenali Ciri Atasan Toksik yang Merusak Mental dan Karier Karyawan

Kenali Ciri Atasan Toksik yang Merusak Mental dan Karier Karyawan
Ilustrasi atasan toksik di tempat kerja
A A Ukuran Teks16px

Memiliki atasan dengan perilaku buruk dapat menguras energi dan merusak kesejahteraan mental pekerja. Lingkungan kerja yang tidak sehat ini berpotensi mengganggu kepuasan kerja hingga menghambat jenjang karier.

Menghadapi situasi ini membutuhkan kejelian agar tidak salah langkah. Kenali ragam ciri bos toksik dan cara tepat menghadapinya.

>>> Swiss Puncaki Klasemen Grup B Piala Dunia 2026 Berkat Fair Play

Ciri-Ciri Atasan Toksik

Sikap yang sulit ditebak menjadi salah satu ciri utama. Menurut psikolog klinis Sabrina Romanoff, atasan toksik memperlakukan bawahan tergantung suasana hati mereka.

Atasan bermasalah umumnya menunjukkan emosi yang tidak konsisten. Karyawan mungkin merasa seperti berjalan di atas cangkang telur atau terus-menerus mengamati suasana ruangan.

Instruksi yang membingungkan membuat pencapaian terasa tidak pernah cukup.

Psikolog Patrice Le Goy menyebut bos toksik menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa diremehkan, cemas, atau tidak yakin dengan posisi mereka.

Penyalahgunaan kekuasaan juga menjadi tanda bahaya. Konselor Tracy Vadakumchery mengungkapkan atasan seperti ini kerap menekan bawahan demi dominasi.

Jika bos berbicara negatif tentang rekan kerja lain, itu bisa menjadi cara mereka memanfaatkan kekuasaan. Hal ini membuat karyawan rentan merasa terkucilkan dan takut bersuara.

Mengabaikan batasan pribadi adalah ciri lainnya. Le Goy menuturkan bos toksik kurang menghormati waktu, beban kerja, atau kebutuhan pribadi karyawan.

Sebaliknya, bos yang sehat mendukung staf sambil menetapkan batasan dan ekspektasi yang sehat. Tanda bahaya adalah ketika bos melewati batasan ke dalam kehidupan pribadi secara tidak relevan.

Dampak Punya Atasan Toksik

Le Goy mengatakan atasan yang tidak dapat diprediksi, kritis, atau tidak aman secara emosional membuat karyawan merasa sangat waspada atau terus-menerus gelisah.

>>> Brimob Polda Metro Jaya Gagalkan Tawuran Pemuda di Bekasi, Tiga Diamankan

Seiring waktu, karyawan mungkin mengalami kecemasan, depresi, keraguan diri, harga diri rendah, atau rasa takut sebelum pergi bekerja.

Romanoff menjelaskan perundungan di tempat kerja sangat merusak karena tim kerja berfungsi seperti keluarga kedua. Bos mengambil peran sebagai orangtua dan rekan kerja sebagai saudara kandung.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru