⌂ Beranda News Apophenia: Saat Otak Mencari Makna dalam Kebetulan

Apophenia: Saat Otak Mencari Makna dalam Kebetulan

Apophenia: Saat Otak Mencari Makna dalam Kebetulan
Ilustrasi otak manusia dengan pola-pola acak yang dihubungkan
A A Ukuran Teks16px

Melihat angka kembar berulang atau mendengar lagu yang terasa pas dengan situasi pribadi sering dianggap sebagai pesan khusus.

Pengalaman ini dikenal sebagai apophenia, fenomena psikologis yang dialami banyak orang.

>>> Alwi Farhan Juara Australia Open 2026, China Dominasi Tiga Gelar

Apophenia adalah kecenderungan manusia untuk mengaitkan makna atau pola pada peristiwa yang sebenarnya acak.

Psikolog klinis Lienna Wilson, PsyD, mengatakan fenomena ini biasanya menguat saat seseorang melalui fase transisi kehidupan yang berat.

Kehilangan orang terdekat, berakhirnya hubungan asmara, atau pergeseran karier menjadi momen yang sering memicu apophenia. Mendapatkan tanda tertentu dalam ketidakpastian bisa mendatangkan ketenangan dan memberi arah hidup.

Asal Usul dan Normalitas Apophenia

Istilah apophenia pertama kali dicetuskan oleh psikiater Klaus Conrad saat meneliti indikasi skizofrenia. Namun, neuropsikolog Sanam Hafeez, PsyD, menegaskan kondisi ini bukan gangguan mental.

"Secara psikologis, apophenia mengacu pada persepsi adanya hubungan, makna, atau pesan dalam fenomena yang tidak saling berkaitan," kata Hafeez.

Pengalaman ini normal dan lumrah pada hampir setiap individu dalam takaran tertentu.

Contohnya adalah saat seseorang dihubungi teman yang baru dipikirkan, atau bertemu kawan lama tanpa direncanakan saat liburan.

Lienna Wilson mengungkapkan dorongan mencari keteraturan berasal dari proses evolusi. Otak diprogram untuk mengidentifikasi pola agar manusia bisa mendeteksi ancaman lebih cepat.

"Secara evolusioner, otak lebih memilih salah mengenali ancaman daripada melewatkan ancaman yang sebenarnya," ujar Wilson.

Insting ini terbawa ke aktivitas modern, seperti menganggap angka tertentu membawa keberuntungan atau lirik lagu sebagai pesan personal.

>>> Ronald Koeman Targetkan Kemenangan Belanda atas Jepang di Piala Dunia

Risiko Terhadap Pengambilan Keputusan

Meski normal, apophenia bisa memicu masalah jika individu mengesampingkan rasionalitas dan data faktual.

Sanam Hafeez menyebut kerentanan ini meningkat saat seseorang didera tekanan emosi, kesepian, kecemasan, atau stres berat.

Dampak buruk terlihat ketika keputusan krusial diambil hanya berdasarkan tanda semu. Contohnya, menggelontorkan dana besar untuk liburan demi angka destinasi yang terus terlihat.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru