Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan pengiriman mobil dari pabrik ke diler atau wholesales BYD di Indonesia merosot tajam pada Mei 2026.
Angka distribusi tersebut mencapai 895 unit, turun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4.625 unit.
>>> Ayyoub Bouaddi Tampil Memukau Saat Maroko Imbangi Brasil
Ini menjadi catatan terendah sejak produsen asal China itu resmi terjun ke pasar domestik tahun lalu.
Kemerosotan performa ini membuat BYD keluar dari zona 10 besar merek mobil terlaris di pasar nasional secara keseluruhan.
Penurunan di Hampir Semua Model
Berdasarkan data Gaikindo, penurunan pengiriman melanda hampir seluruh model kendaraan BYD.
Sealion masih memimpin dengan 258 unit, disusul M6 sebanyak 197 unit, dan Atto 3 sebanyak 174 unit.
Selanjutnya, model E6 membukukan 129 unit, Dolphin 101 unit, Atto 1 sebanyak 26 unit, dan Seal hanya 10 unit.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T Panjaitan, memberikan penjelasan mengenai situasi internal.
>>> Prabowo Subianto Terima Kunjungan Kenegaraan Presiden Jerman, 585 Polisi Dikerahkan
“Itu adalah dampak dari transisi production source kita. Sebelumnya kita masih berbasis impor, wholesales itu bagian dari penjualan principal kepada dealer,” kata Luther.
Pihak manajemen menegaskan penurunan ini bukan karena melemahnya minat konsumen, melainkan proses penyesuaian rantai pasok.
Perusahaan sedang beralih dari status kendaraan impor utuh (CBU) menuju perakitan lokal (CKD).
“Kita membenahi sistem supply dengan transisi dari barang CBU ke produksi lokal.
Sehingga ada sedikit shock di sisi angka, tapi itu akan normal kembali di bulan ini,” ujar Luther.
Minimnya distribusi produk anyar Atto 1 yang hanya 26 unit juga menjadi sorotan.
>>> Investor Diversifikasi ke Dollar AS Antisipasi Volatilitas Rupiah
“Ya memang itu dampak dari transisi itu. Mungkin itu bisa dibaca kenapa bisa ada shock pengurangan yang cukup signifikan tersebut,” kata Luther.