Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (15/6/2026) pagi dengan lonjakan signifikan, menembus level 6.200-an.
Penguatan ini didorong oleh akumulasi sentimen positif dari pasar domestik dan situasi geopolitik global.
>>> KAI Tambah KA Pandalungan 2, Perjalanan Jember-Gambir Makin Terfasilitasi
Berdasarkan data RTI, IHSG terpantau menguat 3,47 persen atau bertambah 208,42 poin, mencapai 6.216,07 pada pukul 9.10 WIB.
Perdagangan dibuka pada level 6.118,72, dengan rentang pergerakan harian antara 6.118,07 hingga 6.220,28.
Aktivitas transaksi di lantai bursa mencatatkan volume 5,14 miliar saham dengan nilai turnover Rp3,21 triliun dari 309.226 kali frekuensi.
Sebanyak 507 saham menguat, 84 melemah, dan 87 lainnya stagnan.
Tren positif ini sejalan dengan bursa saham Asia lainnya.
Nikkei melonjak 5,29 persen, Hang Seng menguat 1,29 persen, dan Shanghai Composite Index naik 1,27 persen.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, sebelumnya memperkirakan IHSG bergerak positif di rentang 5.900 hingga 6.100.
>>> Tiga Sekolah Rakyat Jatim Raih TOP 100 BUMD Education Award 2026
Kenaikan mingguan IHSG 7,38 persen pekan lalu menjadi katalis, didukung kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 25 bps menjadi 5,5 persen yang memperkuat Rupiah.
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut membawa sentimen positif. Meskipun IHSG rebound, investor asing mencatat outflow Rp6 triliun di pasar reguler sepekan.
Pekan ini, pasar mencermati potensi kenaikan BI-Rate 25-50 bps pada 18 Juni 2026 untuk stabilisasi rupiah.
Faktor internasional lainnya adalah meredanya ketegangan di Timur Tengah setelah kesepakatan AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz.
Langkah defensif Presiden Trump menjelang midterm election November 2026 direspons positif pasar komoditas dan bursa Asia Pasifik.
Pasca kesepakatan damai, harga minyak mentah Brent jatuh -4% ke USD 83,8/barrel pada 15 Juni 2026.
Bursa Asia Pasifik merespons positif, dengan Indeks Nikkei 225 menguat +5% dan KOSPI +5,4% secara intraday pada hari yang sama.
>>> Kejaksaan Agung Setor Rp 1 Triliun Lebih PNBP ke Kementerian Keuangan
Pasar juga mencermati hasil FOMC The Fed yang berpotensi menahan suku bunga di level 3,5%-3,75%.