Pertamina Patra Niaga memastikan setiap bahan bakar minyak (BBM) yang dipasarkan melalui proses produksi yang ketat.
Proses tersebut dimulai dari pengolahan di kilang, pengujian laboratorium, hingga distribusi ke konsumen.
>>> Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik Jadi 439,8 Miliar Dollar AS
Salah satu upaya menjaga mutu produk adalah dengan menerapkan sistem pengelolaan impurities. Metode ini berfungsi mereduksi zat pengotor yang secara alami terkandung dalam minyak mentah.
Zat pengotor tersebut meliputi sulfur, garam, asam naftenat, nitrogen, dan logam berat seperti nikel, vanadium, serta merkuri. Proses ini mencegah kontaminasi yang dapat menghambat kinerja kilang.
“Proses ini mencegah agar zat-zat tersebut tidak mengontaminasi minyak mentah dan menghambat kinerja kilang sehingga produk kilang tetap terjaga kualitasnya,” ujar Roberth dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Penanganan zat pengotor menjadi bagian krusial untuk menjaga kelangsungan operasional di sektor hilir migas. Sistem ini juga mempertahankan kepercayaan publik terhadap produk perusahaan.
Tiga Tahapan Penanganan Zat Pengotor
Terdapat tiga tahapan utama yang diterapkan di enam fasilitas kilang operasional perusahaan.
Tahap pertama fokus pada fleksibilitas operasi melalui seleksi dan pencampuran minyak mentah menggunakan Crude Acceptance Matrix (CAM) dan blending.
Metode ini membuat minyak mentah berkadar pengotor tinggi tetap aman diolah. Fase berikutnya adalah pre-treatment dan chemical treatment untuk menurunkan kadar air, garam, sulfur, nitrogen, serta logam.
>>> Megawati Resmikan Wajah Baru Istana Gebang Blitar Senilai Rp 4,1 Miliar
Proses ini didukung teknologi desalter, hydrotreating, dan injeksi bahan kimia pelindung korosi. Pada tahap akhir, dilakukan aspek asset integrity & reliability untuk memastikan operasional kilang berjalan aman dan berkelanjutan.
Penerapannya memakai material anti-korosi, inspeksi berkala, serta pemeliharaan rutin. “Hasil dari tiga tahapan tersebut adalah BBM berkualitas tinggi dan ramah terhadap lingkungan,” kata dia.
Melalui proses ini, kilang mampu menghasilkan bahan bakar berspesifikasi standar Euro 4 dengan kandungan sulfur lebih rendah. Produknya antara lain Pertamax Turbo, Pertamax Green, dan Pertamina Dex.
Bahan bakar dengan kadar sulfur rendah meminimalkan risiko korosi pada komponen mesin kendaraan sehingga memperpanjang usia pakai. Efisiensi pembakaran yang dihasilkan juga membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat.
Selain berdampak pada performa kendaraan, bahan bakar standar Euro 4 memiliki emisi lebih rendah sehingga menekan polusi udara.
Hal ini berkontribusi positif bagi kesehatan masyarakat.
“Pengelolaan impurities tak hanya menjaga keandalan kilang, tetapi juga memberikan konsumen pengalaman berkendara yang lebih nyaman.
>>> DJP Usulkan Pagu Indikatif 2027 Rp5,4 Triliun, Fokus pada Pengawasan Pajak
Upaya ini menjadi fondasi komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi nasional yang berkelanjutan dan berkualitas prima,” pungkas Roberth.