⌂ Beranda News Ruwatan Sambut 1 Suro di Lasem: Ritual Pembersihan Diri dan Pusaka

Ruwatan Sambut 1 Suro di Lasem: Ritual Pembersihan Diri dan Pusaka

Ruwatan Sambut 1 Suro di Lasem: Ritual Pembersihan Diri dan Pusaka
Warga mengikuti ritual ruwatan dan jamasan pusaka menyambut malam 1 Suro di Lasem
A A Ukuran Teks16px

Puluhan warga memadati Lasem untuk menyambut malam 1 Suro melalui laku spiritual dengan mengikuti ritual ruwatan yang diawali prosesi pembersihan diri sebelum penjamasan pusaka.

Acara yang diselenggarakan di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada Senin (15/6/2026) malam ini diprakarsai oleh Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan.

>>> Kementerian ATR/BPN Usulkan Anggaran Rp10,61 Triliun untuk 2027

Area belakang rumah sesepuh Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan, Ernantoro, ditata untuk lokasi ritual.

Jajaran kursi disiapkan bagi peserta, sementara berbagai benda pusaka siap menjalani proses penjamasan dan warangan.

Sejumlah perlengkapan ritual tampak memenuhi lokasi, termasuk wadah berisi air kembang, bunga setaman, hingga dupa.

Ernantoro menjelaskan bahwa air tersebut dikumpulkan dari beberapa mata air bersejarah di wilayah Rembang.

Air dari sumber seperti sumur Sunan Bonang, sumber Kajar, dan sumber Gowak digunakan sebagai media pembersihan diri menjelang satu Suro.

Gending Jawa dan alunan gamelan mengiringi suasana ritual yang khidmat.

Para peserta kemudian dipanggil satu per satu untuk menjalani prosesi ruwatan dengan duduk di kursi berselimut kain putih.

Ernantoro memimpin ritual dengan menyentuh dahi peserta, dilanjutkan dengan pengguyuran air kembang ke kepala mereka. Rangkaian diakhiri dengan pemotongan sehelai rambut yang dimasukkan ke wadah air bunga.

>>> Prabowo Terima Presiden Jerman di Istana Merdeka, Perkuat Kemitraan Strategis

Makna Ruwatan dan Warangan

Prosesi pembersihan ini dilakukan bergantian kepada seluruh peserta. Menurut Ernantoro, ruwatan dan warangan adalah tradisi rutin tahunan yang diadakan setiap menjelang pergantian tahun baru Jawa.

Melalui ritual tersebut, peserta diharapkan dapat membersihkan diri dari segala macam energi negatif yang melekat, berfokus pada penataan batin serta pikiran.

Para peserta juga disarankan mematangkan persiapan diri dengan menjalani puasa Senin Kamis sebelum hari pelaksanaan. Ritual kali ini diikuti sekitar 35 orang dewasa dari berbagai kalangan.

Setelah ruwatan rampung, kegiatan berlanjut ke tahap warangan atau penyucian benda pusaka. Tradisi ini berfungsi membersihkan sekaligus merawat keris agar kondisinya tetap terjaga baik.

Peserta ritual menerima wejangan khusus sebagai pengingat moral, bermakna penting agar senantiasa memperbaiki diri serta menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi spiritual ini telah berjalan sejak 1995, dan banyaknya peserta dari luar daerah membuktikan eksistensinya tetap terjaga.

Seorang warga, Sugiono, mengaku rutin mengikuti kegiatan ini untuk membersihkan hati dan pikiran dari pengaruh negatif, serta menolak bala dan menghindari kesialan selama setahun ke depan.

>>> DFSK E5 Plus Mulai Dirakit Lokal di Banten Jelang GIIAS 2026

Pandangan serupa disampaikan Abdul Wahab, yang menganggap malam 1 Suro sebagai momentum sakral dalam kebudayaan Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan terhindar dari kesialan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru