Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan beroperasi.
Teknologi ini tidak lagi sekadar digunakan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi mulai menjadi fondasi baru dalam pengambilan keputusan dan strategi bisnis.
>>> Kejutan Piala Dunia 1982: Aljazair Tumbangkan Jerman Barat
Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan dituntut tidak hanya memanfaatkan AI sebagai pendukung operasional. Mereka juga harus mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis dan model organisasi.
Perubahan tersebut menandai pergeseran dari pendekatan AI-enabled menuju AI-first. Artinya, AI menjadi bagian inti dari strategi perusahaan.
Pandangan itu mengemuka dalam AI Leadership Exchange 2026 bertajuk The Agentic Leap: Empowering Indonesia's Digital Leadership and Winning the Enterprise AI Race.
Acara yang digelar pada Kamis (11/6) oleh IBM Indonesia dan CIO Insight Indonesia itu mempertemukan pemimpin teknologi perusahaan, pelaku industri, dan regulator.
AI Jadi Penentu Daya Saing Bisnis
Pergeseran menuju AI-first dinilai penting karena perusahaan yang lebih cepat mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis berpotensi meningkatkan produktivitas.
Mereka juga dapat mempercepat pengambilan keputusan serta menciptakan model bisnis baru.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria mengatakan, Indonesia perlu membangun kemampuan nasional dalam pengembangan AI.
Tujuannya agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi sendiri.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini mendorong pengembangan ekosistem AI melalui kerangka 5A. Kerangka itu mencakup Availability, Affordability, Awareness, Ability, dan Agency.
"Kerangka ini diharapkan dapat mempercepat pemanfaatan AI secara lebih luas dan memberikan dampak nyata bagi sektor ekonomi maupun industri nasional," ujarnya.
Sementara itu, General Manager IBM Asia Pacific, Hans A. T.
Dekkers menilai kesenjangan mulai terlihat antara perusahaan yang menggunakan AI sebagai alat bantu dan perusahaan yang menjadikan AI sebagai bagian inti operasional bisnis.
Menurut Hans, kelompok pertama umumnya memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi kerja. Kelompok kedua menggunakan AI untuk membangun ulang proses bisnis, pengambilan keputusan, hingga model operasional perusahaan.