Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, Indonesia harus mampu menjadi pemain sekaligus penguasa teknologi yang berkembang sangat cepat tersebut.
>>> New York Knicks Juara NBA 2026 Usai Kalahkan San Antonio Spurs
Pernyataan itu disampaikan Gibran melalui akun Instagram miliknya, Selasa (16/6/2026).
Ia menekankan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan saat ini.
"Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini.
Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujar Gibran.
Gibran menyampaikan hal itu di tengah masifnya perkembangan AI global yang mulai mengubah berbagai sektor, mulai dari pendidikan, industri kreatif, hingga dunia kerja.
Ia menilai perkembangan tersebut harus dipandang sebagai peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing bangsa.
Menurut Gibran, generasi muda Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan AI karena banyak teknologi canggih yang kini tersedia secara terbuka atau open source.
"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja.
Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia," ungkapnya.
>>> Nico Paz Pilih Bertahan di Como Demi Menit Bermain Jelang Piala Dunia 2026
Gibran mengajak pelajar untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara kerja dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan diri.
AI dapat membantu proses belajar, mencari informasi, memahami bahasa asing, hingga menyederhanakan materi pelajaran yang kompleks.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguasaan AI harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. AI seharusnya menjadi alat untuk mempercepat proses belajar dan berkarya, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
"Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," imbaunya.
Gibran juga menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI.
Ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, maupun melanggar privasi.
"Teknologi tanpa etika itu berbahaya.
AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoax, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain," tegasnya.
Gibran menegaskan bahwa penguasaan teknologi dan penerapan etika harus berjalan beriringan jika Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
>>> Masalah Visa Bikin Mehdi Torabi Absen di Piala Dunia 2026
"Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian," pungkasnya.