Sejumlah warga di Kota Palu, Sulawesi Tengah, memilih untuk tidur di luar rumah pada Selasa malam, 16 Juni 2026.
Keputusan ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi gempa susulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah tersebut.
>>> Elza Syarief Mundur dari Kasus Korupsi Badan Gizi Nasional
Di Kelurahan Nunu, Kota Palu, warga mulai berkumpul di teras dan halaman rumah.
Perlengkapan tidur seperti tikar dan kasur digelar di area terbuka untuk berjaga-jaga jika terjadi guncangan susulan saat malam hari.
Kepanikan massal sempat terjadi saat gempa utama mengguncang, membuat warga berhamburan keluar bangunan.
Beberapa titik permukiman lain juga menunjukkan situasi serupa, dengan warga bertahan di ruang terbuka sambil memantau informasi resmi.
Rasa trauma akibat kuatnya guncangan pada siang hari menjadi alasan utama warga enggan beristirahat di dalam rumah. "Masih takut masuk rumah.
>>> Irak vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Panggung Debut Erling Haaland
Tadi siang gempanya kuat.
Siapa tahu masih ada susulan lagi, lebih baik kita tidur di luar dulu," ujar Fatir, seorang warga setempat.
Selain menggelar tempat tidur darurat, beberapa keluarga juga menyiagakan kendaraan di posisi yang mudah diakses. Langkah ini dilakukan agar proses evakuasi bisa berjalan lebih cepat jika situasi memburuk.
Hingga larut malam, aktivitas warga yang berjaga bersama keluarga masih terlihat di sejumlah lingkungan perumahan. "Tadi lihat berita ada sudah tujuh puluh lebih kali gempa.
Kita masih takut, makanya malam ini istirahat di luar saja," kata Burhanuddin, warga lainnya.
>>> Barcelona Incar Rayan Cherki dari Manchester City
Masyarakat Kota Palu terus waspada dan memantau perkembangan informasi terkini dari pihak berwenang serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).