Sejumlah bank investasi global memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk akhir 2026 hingga 2027.
Langkah ini dipicu oleh perkembangan terbaru dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
>>> IHSG Berpotensi Menguat Berkat Redanya Tekanan Jual Investor Asing
Perkembangan tersebut memicu ekspektasi pemulihan ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran energi ini menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan minyak dunia.
Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan Citi sama-sama menurunkan perkiraan harga minyak mereka. Meski demikian, setiap institusi memiliki tingkat optimisme yang berbeda terhadap pemulihan pasokan global.
Morgan Stanley dan Goldman Sachs Revisi Target
Morgan Stanley memperkirakan harga minyak mentah Brent akan berada pada rata-rata 80 dolar AS per barel pada kuartal IV 2026.
Bank investasi tersebut juga memproyeksikan harga minyak Brent mencapai rata-rata 90 dolar AS per barel pada kuartal III 2026.
Perkiraan terbaru ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Sebelumnya, Morgan Stanley memperkirakan harga minyak mentah Brent rata-rata mencapai 100 dolar AS per barel pada kuartal III 2026.
Tim analis komoditas Morgan Stanley menilai perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran menjadi langkah penting menuju deeskalasi konflik di kawasan Teluk.
"Masih banyak yang harus dinegosiasikan dan risiko utama tetap ada.
Namun untuk saat ini, ini merupakan langkah penting menuju deeskalasi konflik dan peningkatan ekspor minyak melalui Selat Hormuz," tulis para analis.
Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi 80 dolar AS per barel dari sebelumnya 90 dolar AS per barel.
Selain itu, mereka menurunkan proyeksi rata-rata pada 2027 menjadi 75 dolar AS per barel dari sebelumnya 80 dolar AS per barel.
Tim riset komoditas Goldman Sachs memperkirakan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz akan kembali normal sepenuhnya pada akhir Juli 2026.
Pengumuman kesepakatan konflik di kawasan Teluk Persia menjadi faktor utama di balik revisi proyeksi tersebut.