Umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan pada Rabu, 17 Juni 2026. Perayaan ini menjadi momentum kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan).
Rangkaian hari suci ini akan diikuti oleh Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026. Masyarakat saling membagikan ucapan selamat dalam bahasa Indonesia dan Bali.
>>> Promotor Tambah Jadwal Konser BTS di Jakarta Menjadi Tiga Hari
Refleksi Melawan Kebenaran Palsu
Di tengah kemeriahan, muncul seruan untuk menjadikan Galungan sebagai refleksi menghadapi realitas sosial. Pengamat kecenderungan masa depan sekaligus intelektual Bali, Jro Gde Sudibya, menyoroti ancaman manipulasi kebenaran.
Menurutnya, karakter manusia yang rapuh sering memanipulasi Dharma menjadi kebenaran palsu melalui pencitraan hingga ancaman. Hal ini berdampak pada degradasi budaya dan kemandirian masyarakat.
Jro Gde Sudibya mengkritik investasi hasil kolusi penguasa dan pengusaha yang meminggirkan warga lokal dengan jargon kesejahteraan.
Penyaluran bantuan ke Desa Pakraman dinilai membuat masyarakat tidak mandiri dan memicu kemunduran etos kerja.
>>> Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out untuk Efisiensi Jamuan Makan Perusahaan
Ia juga menyoroti maraknya perilaku negatif seperti mabuk dan judi yang memicu kemiskinan struktural dan kultural.
Melalui tulisan refleksinya, ia mengajak krama Bali memanfaatkan esensi Galungan sebagai kekuatan moral.
Di sisi lain, kemeriahan ritual tetap berjalan dengan pemasangan penjor melengkung sebagai simbol bakti kepada Tuhan.
>>> Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas Jakarta Imbas Demonstrasi di Monas
Masyarakat diimbau introspeksi diri, meningkatkan keimanan, dan menjaga toleransi selama rangkaian hari suci.
