Suzuki Satria tipe standar terus menunjukkan dominasinya di pasar domestik, mengungguli varian terbarunya, Satria Pro.
Fenomena ini terjadi karena konsumen lebih memilih desain klasik model lama dibandingkan tampilan baru Satria Pro.
>>> Kemenperin Tingkatkan Kapasitas IKM Pangan Lewat Program IFI 2026
Data penjualan menunjukkan perbedaan performa yang signifikan, dengan varian lama menguasai pasar dengan perbandingan tiga banding satu terhadap model standar.
Preferensi Konsumen Terhadap Desain Klasik
Kepala Cabang Suzuki Motor Sunter ISG, Deddy Priambada, menyatakan bahwa permintaan pasar masih berpusat pada model dengan tampilan konvensional.
"Permintaan lebih banyak yang tipe standar, yang tampilan Satria lama. Nah, itu lebih dominan, lebih banyak yang itu (penjualannya)," ujarnya.
Basis pelanggan yang loyal terhadap visual lawas menjadi pendorong utama dominasi tipe reguler. "Karena ya masih banyak penggemarnya, secara fisik tidak banyak berubah.
Kalau komposisinya ya 1:2 lah, kurang lebih komposisi Satria yang standar 75 persen, sisanya 25 persen," jelas Deddy.
>>> KPK Usulkan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, DPR Minta Rp5 Triliun
Kondisi ini terjadi di tengah sentimen negatif warganet terhadap penyegaran area fascia Satria Pro yang dinilai kurang menarik, bahkan memunculkan julukan bernada kritik di media sosial.
Penolakan desain tersebut terjadi meskipun Satria Pro menawarkan keunggulan fitur modern seperti sistem pengereman ABS, fitur keyless, konektivitas gawai, dan soket USB.
Varian Pro ini ditawarkan dengan selisih harga Rp 3,9 juta dari varian standar yang dibanderol Rp 31,3 juta pada Juni 2026.
Secara teknis, kedua varian berbagi spesifikasi mesin DOHC injeksi berkapasitas 147,3 cc berpendingin cairan.
>>> Prodia Digital Luncurkan Fitur Pembayaran U-aang Bersama blu by BCA Digital
Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 18,1 hp pada 10.000 rpm dan torsi maksimal 13,8 Nm pada 8.500 rpm, disalurkan melalui transmisi manual enam percepatan.